LISTEN TO THIS
DENGAR INI

After poorness there will be richness, after being thirsty there will be freshness, after parting there will be a meeting, after rift there will be adhesiveness, after disconnect will being reconnected and after you cannot sleep at night you could be sleep well after it.

Setelah kefakiran itu ada kekayaan, setelah kehausan akan ada kesegaran, setelah perpisahan akan ada pertemuan, setelah keretakan akan ada kerekatan, setelah terputus akan tersambung kembali dan setelah tidak tidur malam Anda akan dapat tidur pulas.

I knew something in this life, is not necessary need to be strong but to feel strong...

Saya tahu sesuatu dalam hidup, adalah tidak penting untuk menjadi kuat tetapi bersikap kuat...

Wir Eingeschlagen Haben Und Zu Weit Zurück Zu Gehen, Gehen Sie Auf!

Kita Sudah Memulai Dan Terlalu Jauh Untuk Kembali, Lanjutkan!




Kamis, 11 April 2013

Surga Diliputi Hal Yang Dibenci Jiwa Dan Neraka Diliputi Hal Yang Disukai Nafsu


Dari Anas bin Malik radhiyallahu'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

حفت الجنة بالمكاره وحفت النار بالشهوات

"Surga itu diliputi hal-hal yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi hal-hal yang disukai syahwat." (HR. Muslim)

Mengenal kosa kata

Huffat : Berasal dari kata al-hafa f (الحفاف) yang berarti sesuatu yang meliputi sesuatu yang lain yang berarti surga dan neraka itu diliputi sesuatu. Seseorang tidak akan memasuki surga dan neraka kecuali setelah melewati hijab tersebut. Dalam riwayat Bukhari kata huffat diganti dengan kata hujibat (حجبت ) yang berarti tabir, hijab ataupun pembatas dan keduanya memiliki makna sama. Hal ini ditegaskan Ibnul Arabi sebagaimana dinukil Ibnu Hajar dalam Fathul Baari.

Al-Jannah : Kampung kenikmatan. Al-Makarih : Hal-hal yang dibenci (oleh jiwa) berupa ketaatan dan ketundukan terhadap aturan-aturan Allah Ta'ala . An-Nar : Kampung siksaan dan adzab. Asy-Syahawat : Nafsu yang condong kepada kejelekan-kejelekan.

Penjelasan ulama tentang hadits ini

Saudariku, semoga Allah merahmatimu. Agar lebih memahami makna hadits diatas alangkah baiknya kita simak penuturan Imam Nawawi rahimahullah berikut ini, " Para ulama mengatakan, 'Hadits ini mengandung kalimat-kalimat yang indah dengan cakupan makna yang luas serta kefasihan bahasa yang ada pada diri Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam . Sehingga ia membuat perumpamaan yang sangat baik dan tepat. Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa seseorang itu tidak akan masuk surga sampai mengamalkan hal-hal yang dibenci jiwa, begitupula sebaliknya seseorang tidak akan masuk neraka sehingga ia mengamalkan hal-hal yang disenangi oleh syahwat. Demikian itu dikarenakan ada tabir yang menghiasi surga dan neraka berupa hal-hal yang dibenci atau yang disukai jiwa. Barangsiapa yang berhasil membuka tabir maka ia akan sampai kedalamnya. Tabir surga itu dibuka dengan praktek-praktek yang dibenci jiwa dan tabir neraka itu dibuka dengan praktek-praktek yang disenangi syahwat. Diantara praktek-praktek yang dibenci jiwa seperti halnya bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah Ta'ala serta menekuninya, bersabar disaat berat menjalankannya, menahan amarah, memaafkan orang lain, berlaku lemah lembut, bershadaqah, berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat salah, bersabar untuk tidak memperturutkan hawa nafsu dan yang lainnya. Sementara hal yang menghiasi neraka adalah hal-hal yang disukai syahwat yang jelas keharamannya seperti minum khamr, berzina, memandang wanita yang bukan mahramnya (tanpa hajat), menggunjing, bermain musik dan yang lainnya. Adapun syahwat (baca: keinginan) yang mubah maka tidak termasuk dalam hal ini. Namun makruh hukumnya bila berlebihan karena dikhawatirkan akan menjerumuskan pada hal-hal haram, setidaknya hatinya menjadi kering atau melalaikan hati untuk melakukan ketaatan bahkan bisa jadi hatinya menjadi condong kepada gemerlapnya dunia. "( Syarhun Nawawi 'ala Muslim, Asy-Syamilah).

Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari berkata,
"Yang dimaksud dengan al-makarih (hal-hal yang dibenci jiwa) adalah hal-hal yang dibebankan kepada seorang hamba baik berupa perintah atau larangan dimana ia dituntut bersungguh-sungguh mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan tersebut. Seperti bersungguh sungguh mengerjakan ibadah serta berusaha menjaganya dan menjauhi perbuatan dan perkataan yang dilarang Allah Ta'ala . Penggunaan kata al-makarih disini disebabkan karena kesulitan dan kesukaran yang ditemui seorang hamba dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Adapun yang dimaksud syahwat disini adalah hal-hal yang dilakukan untuk menikmati lezatnya dunia sementara syariat melarangnya. Baik karena perbuatan tersebut haram dikerjakan maupun perbuatan yang membuat pelakunya meninggalkan hal yang dianjurkan. Seakan akan Nabi shallallahu'alaihi wasallam mengatakan seseorang tidaklah sampai ke surga kecuali setelah melakukan amalan yang dirasa begitu sulit dan berat. Dan sebaliknya seseorang tidak akan sampai ke neraka kecuali setelah menuruti keinginan nafsunya. Surga dan nereka dihijabi oleh dua hal tersebut, barangsiapa membukanya maka ia sampai kedalamnya. Meskipun dalam hadits tersebut menggunakan kalimat kabar (berita) akan tetapi maksudnya adalah larangan. "( Fathul Baari 18/317, Asy-Syamilah)

Hiasai harimu dengan hadist ini!
Syaikh Abdurrazzaq hafidzahullah memberikan contoh kepada kita bagaimana cara mengaplikasikan hadits ini dalam kehidupan sehari-hari, beliau berkata,

"Kunasehatkan untuk diriku sendiri dan saudaraku sekalian. Jika engkau mendengar adzan telah dikumandangkan 'hayya alash shalah hayya' alal falah ' namun jiwamu merasa benci melaksanakannya, mengulur-ulur waktu dan merasa malas. Ingatkan dirimu tentang hadits ini bahwa surga itu diliputi hal-hal yang dibenci jiwa.

Jika kewajiban membayar zakat telah tiba dan jiwamu merasa malas mengeluarkannya serta membagikannya kepada fakir miskin maka ingatkan dirimu dengan hadits ini bahwa surga itu diliputi hal yang dibenci jiwa.

Jika waktu puasa telah tiba sementara jiwamu merasa enggan menunaikannya, ingatkan dirimu degan hadits ini. Sungguh surga itu diliputi hal yang dibenci jiwa.

Begitu juga ketika jiwamu merasa malas untuk berbakti kepada orang tua, enggan berbuat baik kepada keduanya dan merasa berat memenuhi hak-haknya, ingatkan dirimu dengan hadits ini bahwa surga itu diliputi hal yang dibenci jiwa ".

Beliau hafidzahullah juga berkata, "Sebaliknya ketika jiwamu condong kepada perbuatan-perbuatan keji, zina dan perbuatan haram maka ingatkan dirimu bahwa neraka itu diiputi hal-hal yang disenangi syahwat. Ingatkan pula jika sekarang engkau lakukan perbuatan ini maka kelak engkau akan masuk neraka.

Jika jiwamu tergoda dengan perbuatan riba, maka ingatkan dirimu bahwa Allah dan rasulNya telah mengharamkannnya dan pelakunya kelak akan masuk neraka.

Begitu juga ketika jiwamu sedang ketagihan minum minuman keras dan minuman haram lainnya maka ingatkan dirimu bahwa neraka itu diliputi hal-hal yang disenangi syahwat.

Ketika jiwamu merasa rindu mendengarkan musik, lagu-lagu dan nyanyian-nyanyian yang telah Allah haramkan atau ketika kedua matamu mulai condong melihat sesuatu yang Allah haramkan berupa vcd-vcd porno, gambar-gambar porno dan pemandangan haram lainnya maka ingatkan dirimu bahwa neraka itu diliputi hal-hal yang disenangi syahwat

Jika engkau selalu menerapkan hadits ini dalam sendi-sendi kehidupanmu dan berusaha menghadirkannya setiap saat maka dengan ijin Allah engkau akan bisa menjauhi perbuatan haram dan memudahkanmu menjalankan ketaatan kepadaNya. "
(Muhadharah Syaikh Abdurrazzaq hafidzahullah )

Ingatlah, jiwa manusia itu condong pada kejelekan
Allah Ta'ala berfirman,

إن النفس لأمارة بالسوء إلا ما رحم ربي

"Sesungguhnya jiwa (manusia) itu menyuruh pada kejelekan kecuali jiwa yang dirahmati Tuhanku." (QS. Yusuf: 53)
Ath-Thabari berkata tentang ayat ini, "Jiwa yang dimaksudkan adalah jiwa para hamba, ia senantiasa memerintahkan pada hal-hal yang disenangi nafsu. Sementara hawa nafsu itu jauh dari keridhaan Allah Ta'ala . "( Jami'ul Bayan fi Ta'wilil Qur'an , Asy-Syamilah)

Saudariku, perhatikanlah nasehat Ibnul Jauzi rahimahullah berikut,
"Ketahuilah, semoga Allah mamberikan taufiq kepadamu. Sesungguhnya karakter dasar jiwa manusia itu cinta kepada hawa nafsunya. Telah berlalu penjelasan tentang begitu dasyatnya bahaya hawa nafsu, sehingga untuk menghadapinya engkau membutuhkan kesungguhan dan pertentangan dalam diri jiwamu. Ketika engkau tidak mecegah keinginan hawa nafsumu maka pemikiran-pemikiran sesat (kejelekan-kejelekan) itu akan menyerang sehingga tercapailah keinginan hawa nafsumu. "( Dzammul Hawa , hal.36, Asy-Syamilah)

Hadits penjelas

Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu'alaihiwassalam bersabda, "Ketika surga dan neraka diciptakan, Allah Ta'ala mengutus Jibril 'alaihissalam pergi ke surga seraya berfirman,' Lihatlah ia dan perhatikanlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak! "

Nabi shallallahu'alaihi wasallam melanjutkan, "Jibril pun mendatangi, melihat dan memperhatikan segala nikmat yang Allah sediakan bagi penduduk surga. Kemudian Jibril kembali kepada Allah seraya berkata, 'Demi kemuliaanMu, tidak ada seorangpun yang mendengar tentang berita surga kecuali ingin memasukinya'.

Kemudian Allah memerintahkan surga sehingga ia diliputi hal-hal yang dibenci (jiwa). Lalu Allah Ta'ala memerintahkan Jibril, 'Kembalilah dan lihatlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduk surga!' Maka Jibrilpun kembali ke surga dan ia temui bahwasanya surga telah diliputi dengan hal-hal yang dibenci oleh jiwa manusia. Kemudian Jibril menadatangi Allah Ta'ala seraya berkata, 'Demi kemuliaanMu sungguh aku khawatir tidak ada seorangpun yang bisa memasukinya!'

Lalu Allah memerintahkan, 'Pergilah ke neraka, lihatlah dan perhatikanlah siksaan yang Aku sediakan bagi penghuninya kelak!' Maka ketika dineraka ada api yang menyala-nyala dan bertumpuk-tumpuk, Jibril kembali kepada Allah Ta'ala dan berkata, 'Demi kemuliaanMu tidak ada seorangpun yang ingin memasukinya.' Kemudian Allah Ta'ala memerintahkan agar neraka dipenuhi dengan hal-hal yang disukai syahwat. Allah Ta'ala berfirman, 'Kembalilah padanya!' Jibrilpun kembali ke neraka dan berkata, 'Demi kemuliaanMu, aku khawatir tidak ada seorangpun dari hambaMu yang bisa selamat dari siksaan neraka. " (HR. Tirmidzi, beliau berkata, "Hadits ini hasan shahih". Begitupula Syaikh Al-Albani menilai hadits ini hasan shahih. ( Sunan At-Tirmidzi , Asy-Syamilah)

Saudariku, akhirnya kami hanya bisa berdoa semoga kita semua dimasukkan Allah Ta'ala menjadi golongan penghuni surgaNya yang tertinggi dan dijauhkan dari segala jalan yang mengantarkan kita ke nerakanya.

اللهم إنى أ سئلك الجنة وما قرب إليها من قول و عمل و أعو ذبك من النار وما قرب إليها من قول و عمل

" Ya Allah ... aku memohon kepadamu surga dan segala sesuatu yang bisa mendekatkanku dengannya baik berupa perkataan atau perbuatan. Dan aku berlindung kepadamu dari siksaan neraka dan segala sesuatu yang bisa mendekatkanku dengannya baik berupa perkataan ataupun perbuatan. "(Musnad Imam Ahmad)

Washallahu'ala nabiyyina Muhammadin wa'ala alihi washahbihi wasallam

By : Ummu Fatimah Umi Farikhah
Edited : Aster Prescott
Source : muslimah.or.id



Artikel Terkait Advice (Nasihat) ,Islamic Religion


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentar yang baik atau lebih baik diam. Dilarang keras untuk iklan yang berbau judi, pornografi dan syirik! Jika terpaksa Anda inginkan iklan juga, di sebelah samping kanan ada text box silahkan iklankan kehendak Anda disana. Terima kasih atas pengertian Anda. Semoga Allah merahmati Anda...

-Aditya Von Herman

Über Mich

Foto saya

Herman is a student from University of BSI Margonda Depok, Indonesia major of Computer Engineering. He is the author of www.asterprescott.blogspot.com, www.explorejakartahere.blogspot.com as an article publisher, administrator and moderator on his own personal web blog since February 2013.