LISTEN TO THIS
DENGAR INI

After poorness there will be richness, after being thirsty there will be freshness, after parting there will be a meeting, after rift there will be adhesiveness, after disconnect will being reconnected and after you cannot sleep at night you could be sleep well after it.

Setelah kefakiran itu ada kekayaan, setelah kehausan akan ada kesegaran, setelah perpisahan akan ada pertemuan, setelah keretakan akan ada kerekatan, setelah terputus akan tersambung kembali dan setelah tidak tidur malam Anda akan dapat tidur pulas.

I knew something in this life, is not necessary need to be strong but to feel strong...

Saya tahu sesuatu dalam hidup, adalah tidak penting untuk menjadi kuat tetapi bersikap kuat...

Wir Eingeschlagen Haben Und Zu Weit Zurück Zu Gehen, Gehen Sie Auf!

Kita Sudah Memulai Dan Terlalu Jauh Untuk Kembali, Lanjutkan!




Jumat, 03 Mei 2013

Palestina, Ikhwanul Muslimin, Dan Hasan Al Banna di Mata Abdullah Azzam

Al Banna


Khilafah Utsmaniyah jatuh pada tahun 1924 M,. Upaya pertama kali yang dilakukan untuk mengembalikan kekhalifahan Islam dimulai tahun 1928 M, oleh gerakan Ikhwanul Muslimin yang dipimpin oleh hasan al Banna, mudah mudahan Allah merahmatinya…

Pada mulanya musuh musuh Allah tidak menyadari gerakan Hasan Al Banna, sehingga gerakan yang dipimpinnya tumbuh dengan pesat dan pengikutnya bertambah banyak. Wallahu Alam, yang Nampak oleh kami, Hasan Al Banna adalah seorang lelaki yang mukhlis dan benar. Kami menyangka memang demikian keadaannya. Kami tidak bermaksud memujinya di hadapan Allah, dan kami tidakberani memuji muji seseorang di hadapan Allah.

Meskipun umur Hasan Al Banna masih muda belia saat itu, yakini sekita 23 atau 24 tahunan, namun berkat charisma yang dimilikinya, maka dalam waktu yang relative singkat dakwah Al Banna disambut oleh putra putra Mesir yang terbaik.

Begitu Hasan Al Banna ikut terlibat dalam kancah perang Israel di Palestina, maka barulah musuh musuh Allah sadar akan bahaya yang bakal ditimbulkannya, mereka mengatakan,”Gerakan Islam bersenjata yang dipimpin Hasan Al Banna mengajak umat Islam untuk menegakkan kembali kekhilafahan Islam. Maka gerakan itu harus dibasmi!.”

Waktu itu Hasan Al Banna mengirimkan satu battalion sukarelawan ke Palestina. Sukarelawan tersebut melakukan long march (jalan kaki) dari gurun Sinai ke Palestina, ini terpaksa mereka lakukan setelah mereka dipulangkan dari Aman Jordan. Semula mereka berangkat ke Palestina menumpang pesawat , pesawat tersebut membawa mereka dari Kaioro menuju Aman, sesampai di Aman mereka diperiksa. Begitu kedatangan mereka diketahui sebagai sukarelawan muslim dari Mesir, maka pemerintah Jordan segera mengembalikan pesawat tersebut kembali ke Kairo, tak seorangpun dari mereka yang diperbolehkan turun. Mereka dipulangkan kembali ke Kairo oleh panglima Pasukan Jordan yang menjadi antek-antek Inggris.


Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk ke Palestina dengan jalan kaki, menyeberangi Terusan Suez, melintasi Gurun Sinai dan kemudian masuk ke kantong kantong persembunyian di negeri Palsetina. Dari situlah mereka melancarkan operasi penyerangan.

Begitu Hasan Al Banna melihat Palestina ingin di caplok Yahudi, sementara negeri negeri Arab yang berada di sekitarnya hanya diam dan melihat saja, maka dia mengirim telegram kepada pemimpin pemimpin Arab. Dalam telegram itu Hasan Al Banna mengatakan, “ Jika kalian memang benar benar serius dalam usaha kalian menyelamatkan Palestina maka izinkanlah saya memasukinya dengan 100,000 sukarelawan untuk membersihkan negeri tersebut dari orang orang Yahudi.

Isi telegram tersebut juga sampai kepada mereka yang mengadakan konferensi  internasional di Alaya. Maka pada hari itu juga  atau pada hari keduanya, duta Amerika, Inggris dan Perancis mengadakan siding darurat di Fayed, sebuah kota yang terletak di sepanjang terusan Suez.

Mereka memutuskan untuk menghantam sayap kekuatan Ikhwanul Muslimin. Kemudian keputusan itu mereka kirimkan kepada Naqrasyi Basya, Perdana menteri Mesir, agar melaksanakan keputusan tersebut – bukan kepada raja Farouk yang memegang kekuasaan tertinggi di Mesir – Maka dimulailah aksi persengkokolan jahat mereka untuk menumpas Ikhwanul Muslimin. Kantor kantor jamaah ditutup, ribuan pemuda Ikhwan dipenjarakan dan sebagian petinggi Ikhwan dihukum mati. Namun pemimpinnya Syeikh Hasan Al Banna dibiarkan bebas akan tetapi diawasi dengan ketat.

Namun, sebelum dilaksanakannya keputusan ini, ada empat battalion sukarelawan Ikhwanul Muslimin dari Mesir berhasil masuk Palestina. Ditambah lagi 1 batalion Ikhwan dari Suriah yang dipimpin oleh Syeikh Musthafa As Siba’I , 1 batalion Ikwan dari Irak yang dipimpin oleh Syeikh Muhammad Mahmud Ash Shawwaf, 1 batalion Ikhwan dari Yordania yang dipimpin oleh Abdul Latif Abu Quroh


Pada hari perayaan ulang tahun Raja Farouq, terjadi usaha pembunuhan terhadap Hasan Al Banna. Usaha ini didalangi kepala intelijen istana Raja, Mahmud Abdul Majid. Mereka menembaki mobil yang ditumpangi Hasan Al Banna, yang akan memberikan ceramah di suatu tempat. Hasan Al Banna dan supirnya terluka, namun luka Al Banna tidak terlalu berat, hanya supirnya yang mengalami luka cukup serius. Hasan Al Banna menenangkan supirnya, “ Hanya luka ringan saja , Alhamdulillah”. Lalu dia turun dari kendaraan dan mencatat nomor mobil yang menembakinya.

Hasan Al Banna dibawa ke rumah sakit Qashr Aini (Rumah sakit Universitas Al Qahirah) dan dimasukkan ke ruang operasi.

Raja Farouq menghubungi petugas rumah sakit sewaktu Hasan Al Banna terbaring di ruang operasi, menanyakan pada mereka tentang keadaan Hasan Al Banna. Mereka menjawab, “Lukanya ringan”.

Maka Raja Farouq kemudian mengirim seorang perwira bernama Muhammad Washfi untuk membunuh Hasan Al Banna. Muhammad Washfi masuk ruang perawatan dan memerintahkan agar orang orang yang ada di sana keluar. Lalu dia menutup pintu ruangan  dan kemudian membunuh Hasan Al Banna di tempat itu juga.

Tak lama kemudian pihak Rumah Sakit mengumumkan wafatnya Hasan Al Banna. Lalu aliran listrik diputus dan jenazah Al Banna dipindahkan dengan kawalan tank tank yang berderet di sepanjang jalan dekat rumah sakit itu. Tak seorang pun diperkenankan untuk menshalati jenazah Hasan Al Banna, kecuali empat orang wanita saja. Jenazahnya dikubur dengan pengawalan yang sangat ketat dari pengawal Raja Farouq yang lalim.

Melihat fakta dilapangan ternyata gerakan Ikhwanul Muslimin tidaklah mati walau para pemimpinnya telah dibunuh , maka saat itu Amerika Serikat mulai bertindak, mereka membuat perjanjian dengan beberapa perwira pasukan Mesir, seperti : Jamal Abdul Nasher, Anwar Sadat dan Abdul Hakim Amer. Duta Amerika menemui perwira perwira ini dan mengatakan,” Tuan tuan, kami ingin agar tuan tuan melancarkan kudeta terhadap pemerintahan Raja Farouq, kami bersedia melindungi dan membantu tuan tuan, dengan syarat :

1. Harus bersedia menumpas harakah Ikhwanul Muslimin.
2. Jangan mengganggu perbatasan Israel.
3. Harus bersedia membubarkan Jamiah Al Azhar

Mereka perwira militer menyepakati ketiga persyaratan ini, dan selanjutnya mereka melancarkan kudeta pada tahun 1952 M. Muhammad Najib dan Anwar Sadat memberikan pernyataan bahwa duta AS turut hadir dalam siding pertama yang diadakan oleh Dewan Revolusi.

Duta AS, Jefferson meminta bantuan dana kepada pemerintahannya melalu sebuah pengarang buku “ Permainan Bangsa bangsa”, pengarangnya seorang agen rahasia AS namanya Mells Copsland, untuk mendukung revolusi Jamal Abdul Nasser. Dana diberikan 3 Juta Dollar itu digunakan untukbiaya operasional perangkat intelijen, membeli mobil anti peluru buat Jamal Abdul Nasher, dan untuk menggaji para perwira yang ikut serta dalam Dewan Revolusi. Dana tersebut dikeluarkan dari dana pribadi Presiden AS Eisenhower.

Kemudian ketiga syarat tersebut mulai dilaksanakan. Rezim Jamal Abdul Nasser memerangi Ikhwanul Muslimin, menghukum mati sisa pemimpin Ikhwanul Muslimin dan mengeksekusi di tiang tiang gantungan. Kendati dunia Islam berupaya menengahi persoalan tersebut, tapi Jamal Abdul Nasser menolak campur tangan semua mediasi tersebut.

Umar Baha’usddin Al Amiri, duta Suriah di kerajaan Arab Saudi waktu itu, datang menemui Raja Su’ud dan mengatakan kepadanya,” Abdul Nashr hendak menghukum mati para ulama di negerinya. Alangkah baiknya bila tuan menengahi persoalan mereka. Lalu Raja  mengirim putra mahkota  Pangeran Faesal ke Mesir untuk menemui Jamal Abdul Nashr. Tujuan kunjungannya adalah untuk memintakan keringanan hukuman bagi para ulama yang akan dihukum mati. Tapi Jamal Abdul Nashr mengetahui rencana kunjungan ini, maka dia memerintahkan anak buahnya untuk mengeksekusi mereka pada malam hari sebelum Pangeran Faehal tiba  Mesir.

Jamaah Ikhwanul Muslimin diperangi, para aktifisnya dimasukkan dalam penjara, dan setiap muslim yang taat menjalankan ajaran agamanya dimusuhi karena kasus Ikhwanul muslimin.

Tahun 1965 M, Dinas Intelijen Amerika mengirim pernyataan kepada jamal Abdul Nashr,” Anda mengira bahwa anda telah menghentikan arus kebangkitan Islam di negeri muslim. Tapi itu keliru, sebab disana masih ada gerakan Islam yang berada di bawah permukaan. Buktinya, Buku  Ma’aalimu Fith Thoriq (Petunjuk Jalan) karangan Sayyid Qutb banyak tersebar di pasar pasar. 30,000 eksemplar buku laku terjual dala waktu relative singkat, semuanya dibeli oleh kaum militant”.

Fakta ini membuat Intelijen AS dan Negara Negara barat tergoncang, mereka mengatakan, “ Jika demikian, di sana masih ada gelombang Islam di bawah permukaan , gerakan tersebut harus diselidiki dan disingkap”.

Ketika Jamal Abdul Nashr berada di Rusia, ia mengeluarkan pernyataan, “ Kami berhasil membongkar suatu persekongkolan yang bermaksud menyingkirkan saya. Persekongkolan itu didalangi oleh Ikhwanul Muslimin. Kami berhasil menangkap 17,000 orang aktifis dalam sehari. Jika makar pertama kami maafkan, maka untuk yang kedua kali ini tidak akan kami maafkan.

Selanjutnya Jamal Abdul Nashr mensuplai berbagai alat penyiksaan kepada sipir penjara. Alat alat itulah yang digunakan untuk menyiksa para aktifis Ikhwan yang dijebloskan ke penjara.

Maaf nih audience dari sumber yang Ast percaya kisah ini bersambung. Tau kapan dah Ast juga ora ngarti ini nyambungnya kemana dan kapan dimana. Yang terpenting sudah tahu aja deh sedikit tentang awal dari Ikhwanul Muslimin. Yang share ini kisah juga pelit nih pake disambung-sambung kaya musim layangan pada telap aja maen sambungan. Payah....

Edited : Mamat Bopak, Bejo Ijo, Udin Sempal, Dan Roy Suryo, diedit juga oleh Gayus Tabunan serta Mat Garing
Source : eramuslim.com



Artikel Terkait Education


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentar yang baik atau lebih baik diam. Dilarang keras untuk iklan yang berbau judi, pornografi dan syirik! Jika terpaksa Anda inginkan iklan juga, di sebelah samping kanan ada text box silahkan iklankan kehendak Anda disana. Terima kasih atas pengertian Anda. Semoga Allah merahmati Anda...

-Aditya Von Herman

Über Mich

Foto saya

Herman is a student from University of BSI Margonda Depok, Indonesia major of Computer Engineering. He is the author of www.asterprescott.blogspot.com, www.explorejakartahere.blogspot.com as an article publisher, administrator and moderator on his own personal web blog since February 2013.