LISTEN TO THIS
DENGAR INI

After poorness there will be richness, after being thirsty there will be freshness, after parting there will be a meeting, after rift there will be adhesiveness, after disconnect will being reconnected and after you cannot sleep at night you could be sleep well after it.

Setelah kefakiran itu ada kekayaan, setelah kehausan akan ada kesegaran, setelah perpisahan akan ada pertemuan, setelah keretakan akan ada kerekatan, setelah terputus akan tersambung kembali dan setelah tidak tidur malam Anda akan dapat tidur pulas.

I knew something in this life, is not necessary need to be strong but to feel strong...

Saya tahu sesuatu dalam hidup, adalah tidak penting untuk menjadi kuat tetapi bersikap kuat...

Wir Eingeschlagen Haben Und Zu Weit Zurück Zu Gehen, Gehen Sie Auf!

Kita Sudah Memulai Dan Terlalu Jauh Untuk Kembali, Lanjutkan!




Minggu, 26 Mei 2013

Surat Terakhir Para Tentara Jerman Dari Stalingrad




Tanggal 23 Januari 1943 pesawat Jerman terakhir meninggalkan Stalingrad. Pada saat itulah ribuan pasukan Jerman yang sudah terkepung oleh Tentara Merah Soviet di Stalingrad menyadari bahwa mereka tak akan kembali lagi ke tanah air nya. Hitler tidak akan menyelamatkan mereka seperti yang dia gembar gemborkan sebelumnya. Pesawat terakhir itu membawa ribuan surat terakhir dari tentara-tentara Jerman yang "diterlantarkan untuk mati" tanpa suplai amunisi dan makanan. Surat-surat terakhir yang ditujukan kepada orang-orang yang mereka sayangi. kebanyakan surat-surat itu berisi keputusasaan dan salam perpisahan. Surat-surat tersebut awalnya diperintahkan untuk dimusnahkan oleh petinggi militer Jerman.

Buku ini memuat beberapa surat terakhir yang berhasil diselamatkan dan dipublikasikan. Beberapa petikan dari surat-surat tersebut :

Surat ke 1
Pada malam yang indah ini, Andromeda dan Pegasus berada tepat diatas kepalaku. Aku memandanginya lama-lama; sebentar lagi aku akan berada sangat dekat dengannya. Aku berhutang kedamaian dengan sepenuh hati pada bintang-bintang, dan bagiku kaulah bintang tercantik diantara mereka semua. Bintang-bintang itu kekal, akan tetapi hidup manusia bagaikan sepercik debu ditengah jagad raya

Surat ke 2
hanya tersisa dua jalan; ke surga atau siberia

Surat ke 3
Kami diharapkan mati dengan heroik, mengilhami dan menyentuh hati, dari keyakinan hati dan untuk suatu alasan yang hebat. Tetapi dalam kenyataannya bagaimanakah sesungguhnya kematian itu disini? Disini mereka mengerang, kelaparan sampai mati, membeku sampai mati.

Mereka berjatuhan seperti lalat; tidak ada yang peduli dan tidak ada yang menguburkan mereka. Mereka bergeletakan dimana-mana, buntung tanpa kaki atau tangan dan tanpa mata, dengan perut robek menganga. Orang harus membuat film tentang ini; kenyataan ini akan membuat film "kematian paling indah sedunia" selamanya menjadi mustahil diciptakan. ini adalah kematian yang hanya cocok unruk binatang; kelak mereka akan membuat tampak suci di atas pahatan dinding granit bertuliskan "Serdadu yang gugur"

Surat ke 4
Tak ada lagi yang bisa mengatakan padaku bahwa para serdadu mati dengan kata-kata "Deutschland" atau "Heil Hitler" di bibir mereka. Sudah pasti ada banyak orang yang mati; tapi kata-kata terakhir yang terucap dibibir mereka adalah "Ibu" atau nama seseorang yang dekat, atau hanya sebuah jeritan minta tolong.

Surat ke 5
Maria sayang, selama ini aku hanya melakukan pekerjaan yang sia-sia. Sersan kepala bilang ini akan menjadi surat terakhir sebab tak akan ada lagi pesawat terbang yang berangkat. Aku tak bisa berbohong. Dan sekarang aku tak akan bisa pulang samasekali. Seandainya aku bisa melihatmu sekali lagi; betapa menyedihkan! Saat kau nyalakan lilin, ingatlah suamimu di Stalingrad.

Surat ke 6
Aku berusaha jujur menuliskan ini. Kaki kananku hancur total dan diamputasi di bawah lutut. Yang kiri diamputasi di bawah paha. Dokter bilang dengan protesis aku bisa berjalan kembali seperti orang normal. Dokter itu orang baik dan aku tahu ia bermaksud baik. Kuharap ia benar. Kadang aku berharap mati, tetapi itu dosa besar dan orang tak boleh berkata seperti itu. Disamping kananku berbaring seorang prajurit yang kehilangan tangan dan hidungnya. Saat aku bertanya padanya apa yang akan ia lakukan kalau menangis, ia menjawab, "Tak ada seorangpun disini yang akan punya kesempatan menangis lagi. Tidak lama lagi orang lain yang akan menangisi kita."

Surat ke 7
Besok aku akan menapakkan kakiku ke jembatan terakhir. Itu cara sastra untuk mengatakan "kematian," tetapi seperti yang kau tahu, aku selalu ingat mengatakan sesuatu dengan kiasan, karena aku senang bermain-main dengan kata-kata dan bunyi. Ulurkan tanganmu, hingga perjalananku menyeberangi jembatan itu tidak terasa berat.

Surat ke 8
Dan sekarang tentang perkara pribadi. Ayah bisa percaya bahwa semua akan berakhir dengan terhormat. Usiaku masih tiga puluh lebih sedikit, aku tahu. Tidak ada sakit hati. Jabat tangan buat Lydia dan Helena. Peluk cium untuk ibu (hati-hati, Yah, perhatikan kesehatan jantungnya) Salam cium untuk Gerda, salam untuk semua. Hormat, Ayah. Letnan Satu ---- dengan hormat memberikan laporan keberangkatannya.

Jangan lupakan sejarah sobat, sejarahlah yang membentuk dunia dan juga kalian. Mari sebentar kita mendoakan para tentara yang gugur di medan perang hannya untuk satu tujuan "membela negara mereka masing-masing".

Edited : Aster Prescott
Source : Buku "Neraka di Stalingrad" karya Franz Schneider, facebook.com, alifrafikkhan.blogspot.com



Artikel Terkait NSDAP


1 komentar:

Berkomentar yang baik atau lebih baik diam. Dilarang keras untuk iklan yang berbau judi, pornografi dan syirik! Jika terpaksa Anda inginkan iklan juga, di sebelah samping kanan ada text box silahkan iklankan kehendak Anda disana. Terima kasih atas pengertian Anda. Semoga Allah merahmati Anda...

-Aditya Von Herman

Über Mich

Foto saya

Herman is a student from University of BSI Margonda Depok, Indonesia major of Computer Engineering. He is the author of www.asterprescott.blogspot.com, www.explorejakartahere.blogspot.com as an article publisher, administrator and moderator on his own personal web blog since February 2013.