LISTEN TO THIS
DENGAR INI

After poorness there will be richness, after being thirsty there will be freshness, after parting there will be a meeting, after rift there will be adhesiveness, after disconnect will being reconnected and after you cannot sleep at night you could be sleep well after it.

Setelah kefakiran itu ada kekayaan, setelah kehausan akan ada kesegaran, setelah perpisahan akan ada pertemuan, setelah keretakan akan ada kerekatan, setelah terputus akan tersambung kembali dan setelah tidak tidur malam Anda akan dapat tidur pulas.

I knew something in this life, is not necessary need to be strong but to feel strong...

Saya tahu sesuatu dalam hidup, adalah tidak penting untuk menjadi kuat tetapi bersikap kuat...

Wir Eingeschlagen Haben Und Zu Weit Zurück Zu Gehen, Gehen Sie Auf!

Kita Sudah Memulai Dan Terlalu Jauh Untuk Kembali, Lanjutkan!




Minggu, 07 Juli 2013

8 cm Granatwerfer 34, Mortir Jaman Nazi

Peninggalan GrW 34 di Festung Hohensalzburg, Salzburg (Austria)


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOTT.COM, assalamualaikum Freund einen schönen Abend noch. Mari yuk sobat kita bahas Mortir Granatwerfer 34 milik Jerman, mortir ini digunakan pada waktu perang dunia II dulu sobat. Silahkan disimak sobat ;



Peluru GrW 34 dari jenis 8-cm Wurfgranate 34, 8-cm Wurfgranate 34 Kh, dan Wurfgranate 34 Üb. Peluru ini biasanya dibawa dengan menggunakan sebuah kotak kayu 8cm yang masing-masingnya berisi tiga buah Wurfgranate 34 yang dilengkapi dengan sebuah "Wgr Z T"( Wurfgranatzünder Trolitul)


8 cm Granatwerfer 34 (8 cm GrW 34) adalah mortir medium standar Jerman selama berlangsungnya Perang Dunia II. Mortir ini meraih reputasi karena akurasinya yang ekstrim serta kecepatan jangka tembakannya, meskipun hal ini sebagian besar terlaksana berkat sistem pelatihan yang mantap atas para awaknya.

Rancangan senjatanya sendiri konvensional dan bisa dipecah menjadi tiga bagian (laras, bipod, dudukan plat) untuk memudahkan saat transportasi. Larasnya mempunyai lubang yang mulus, sementara bipodnya mendapat tambahan putaran roda yang diputar oleh tangan serta sebuah roda tangan lain yang fungsinya untuk mengukur ketinggian dan rata permukaan. Sebuah lensa panorama dipasang di kuk mekanisme pemutar untuk memudahkan pengamatan. Selain itu, sebuah baris tabung dapat digunakan sebagai penahan beban.

8 cm GrW 34/1 merupakan adaptasi untuk digunakan di dudukan yang bisa bergerak sendiri (self-propelled). Versi yang lebih ringan dengan laras lebih pendek diperuntukkan bagi anggota Gebirgsjäger dan dinamakan sebagai kurzer 8 cm Granatwerfer 42.

Mortir jenis ini menggunakan peluru 8 cm 3.5 kg peledak tinggi konvensional atau selongsong asap dengan pemantik perkusi dengan jangkauan hanya sejauh satu kilometer lebih. Jangkauannya bisa ditambah dengan memasangkan sampai tiga bubuk mesiu di antara sirip ekor selongsong.

Keterangan:
Tipe: Mortir
Negara pembuat: Jerman
Negara pengguna: Jerman dan Bulgaria dalam Perang Dunia II
Tahap rancangan: 1922-1933
Tahap produksi: 1934-1945
Varian: 8 cm GrW 34/1

Spesifikasi:
Berat: 62kg (laras besi), 57kg (laras logam campuran)
Panjang laras: 1.143mm (45 in)
Berat peluru: 3,5kg (7 lb 11 oz)
Kaliber: 81,4mm (3.20 in)
Elevasi: 45° sampai 90°
Putaran: 10° sampai 23°
Tingkat kecepatan tembakan: 15-25 rpm
Percepatan peluru: 174 m/detik (571 ft/s)
Jangkauan maksimum: 2.400 m (2,624 yds)

Edited : Aster Prescott
Source : en.wikipedia.org, lexikon-der-wehrmacht.de, alifrafikkhan.blogspot.com



Artikel Terkait NSDAP


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentar yang baik atau lebih baik diam. Dilarang keras untuk iklan yang berbau judi, pornografi dan syirik! Jika terpaksa Anda inginkan iklan juga, di sebelah samping kanan ada text box silahkan iklankan kehendak Anda disana. Terima kasih atas pengertian Anda. Semoga Allah merahmati Anda...

-Aditya Von Herman

Über Mich

Foto saya

Herman is a student from University of BSI Margonda Depok, Indonesia major of Computer Engineering. He is the author of www.asterprescott.blogspot.com, www.explorejakartahere.blogspot.com as an article publisher, administrator and moderator on his own personal web blog since February 2013.