LISTEN TO THIS
DENGAR INI

After poorness there will be richness, after being thirsty there will be freshness, after parting there will be a meeting, after rift there will be adhesiveness, after disconnect will being reconnected and after you cannot sleep at night you could be sleep well after it.

Setelah kefakiran itu ada kekayaan, setelah kehausan akan ada kesegaran, setelah perpisahan akan ada pertemuan, setelah keretakan akan ada kerekatan, setelah terputus akan tersambung kembali dan setelah tidak tidur malam Anda akan dapat tidur pulas.

I knew something in this life, is not necessary need to be strong but to feel strong...

Saya tahu sesuatu dalam hidup, adalah tidak penting untuk menjadi kuat tetapi bersikap kuat...

Wir Eingeschlagen Haben Und Zu Weit Zurück Zu Gehen, Gehen Sie Auf!

Kita Sudah Memulai Dan Terlalu Jauh Untuk Kembali, Lanjutkan!




Sabtu, 13 Juli 2013

Penyebab Lemahnya Italia Sewaktu Perang Dunia II

Benito Mussolini kanan dan Adolf Hitler kiri


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, assalamualaikum guten abend Freund. Seperti yang telah kita ketahui selama ini, bahwa sekutu utama  Jerman di Perang Dunia II adalah Jepang dan Italia. Selain dua negara tersebut, ada negara-negara lain yang bergabung seperti Finlandia, Rumania, dan Hungaria. Dari sekutu-sekutu Jerman yang telah disebutkan, yang dianggap "mengecewakan" adalah Italia yang senantiasa menanggung kekalahan. Di balik kelemahan Italia, ada beberapa faktor yang menjadikan semangat tempur Italia menjadi "melempem". Padahal, di berbagai pertempuran di Front Barat dan Front Afrika sebenarnya Italia juga mendapat bantuan Jerman. Namun Italia tidak ada ubahnya seperti "teman yang menyusahkan". Beberapa faktor tersebut adalah ;

Tidak Bersatunya Pemerintahan Italia
Berbeda dengan Jepang, kaum Fasis Jepang dan otoritas Kekaisaran berada dalam satu suara. Tidak ada istilah dimana otoritas Kekaisaran ataupun kaum Fasis Jepang yang saling curiga satu sama lain. Mereka bekerja sama untuk satu tujuan yakni kejayaan tanah air. Sebaliknya dengan Italia, otoritas Kerajaan dan kaum Fasis Italia malah berbeda pandangan. Kaum Fasis Italia menginginkan untuk menghentikan persekutuan dengan Inggris dan Prancis, karena terbukti kedua negara itu mengkhianati Italia usai Perang Dunia I. Namun otoritas Kerajaan menginginkan untuk mempertahankan aliansi dengan pihak Sekutu. Hal ini mengakibatkan pertentangan yang berlarut-larut pada akhirnya.

Italia Tidak Terlalu Berniat Berperang Di Sisi Jerman
Seperti yang telah dijlaskan di atas bahwa otoritas Kerajaan ingin mempertahankan aliasi dengan pihak Sekutu sedangkan kaum Fasis menarik Italia untuk bersekutu dengan Nazi Jerman. Sebenarnya, kaum Fasis Italia kalah suara dalam hal ini sebab sebagian besar elemen Italia dari masyarakat, militer pemerintahannya (Otoritas Kerajaan) lebih membenci Jerman daripada Inggris dan Prancis. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh faktor historis dimana dalam sejarah sejak masa Romawi Kuno hingga Perang Dunia I, Italia tidak pernah sedikitpun memenangkan pertempuran dengan bangsa Jerman. Bahkan Kekaisaran Romawi Barat sendiri diruntuhkan oleh suku-suku barbar dari tanah Jerman. Bangsa Italia memendam rasa benci ini selama berabad-abad, dan untuk itu mereka mengadakan aliansi dengan Inggris dan Prancis. Namun kaum Fasis Italia tidak mempedulikan masa lalu bangsa mereka dan tetap memilih Nazi Jerman sebagai sekutu. Ini juga menimbulkan perpecahan di kalangan rakyat Italia. Pada akhirnya Jerman sebagai sekutu Italia sendiri tidak diterima oleh rakyat Italia ketika datang untuk membatu pertahanan Italia dari serangan Sekutu.

Doktrin Bertempur Dan Semangat Kedisiplinan Militer Yang Hilang
Semenjak keruntuhan era Romawi, bangsa Italia telah kehilangan doktrin bertempurnya serta kedisiplinan militernya. Mereka lebih senang "mengurus" kesenian. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya seniman yang lahir di Italia seperti Arturo Toscanini, Giorgio Vasari, Leonardo Da Vinci dan lain-lain. Selain itu masyarakat Italia lebih menyukai kebebasan mutlak, pesta-pesta dan sikap foya-foya. Mereka memandang Fasisme sebagai cara untuk memaksa Italia meninggalkan kehidupan bersenang-senang dan kembali kepada aturan berdisiplin yang membosankan. Selain itu bangsa Italia adalah bangsa yang tergolong ribut sendiri. Italia tidak suka berperang bahkan untuk mempertahankan tanah airnya sendiri, namun mereka lebih suka ribut sendiri dan mengadakan pesta serta berfoya-foya. Jelasnya, itulah hidup senang dalam padangan masyarakat Italia.

Persenjataan Italia Masih Kurang Memadai
Sebagai contoh, Angkatan Darat Italia hanya memiliki tank-tank yang inferior dibandingkan dengan tank-tank Inggris dan Prancis yang jauh lebih kuat. Selain itu barak militer dan organisasi angkata bersenjatanya masih berantakan. Namun Italia memiliki satu kelebihan, yakni Angkatan Lautnya jauh lebih kuat daripada Angkatan Laut Inggris dan Prancis serta ditopang dengan armada modern. Italia adalah negara pertama yang memiliki kapal-kapal perang tercanggih pada PD II yang bahkan tidak dapat ditandingi oleh Royal Navy (AL Inggris). Kapal-kapal perang Italia besar dan kuat serta gerakannya yang lebih gesit dan lincah, seperti RN Roma dan RN Littorio. Namun faktor lemahnya mental Italia sepertinya menjadi bahan mainan bagi Sekutu. Belum lagi para petinggi militer Italia yang masih tidak percaya diri menghadapi kekuatan Sekutu meski sudah dibantu oleh Jerman. Hal ini tentu saja menjadi sia-sia.

Perubahan Kebijakan Fasis Italia
Dalam hal ini adalah bermulanya kebijakan Fasis Italia untuk ikut memburu kaum Yahudi seperti Nazi Jerman yang juga memburu kaum Yahudi. Jika Jepang bersemangat untuk memburu kaum Yahudi dan yang memiliki keterkaitan dengan Yahudi seperti Freemasonry hingga ke Indonesia, lain halnya dengan Fasis Italia. Masyarakat Italia tidak suka bermusuhan dengan Yahudi karena mereka menganggap Yahudi penting bagi kehidupan Italia. Bahkan di awal perkembangan Fasis Italia, banyak anggotanya yang berasal dari kalangan Yahudi. Mereka berperan sebagai donatur atau bahkan menduduki jabatan penting sebagai anggota Dewan Fasis. Bahkan kekasih awal Mussolini berasal dari kalangan Yahudi. Perubahan kebijakan akibat persekutuan dengan Nazi Jerman membuat masyarakat Italia muak dengan Pemerintahan Fasis.

Otoritas Vatikan
Mussolini membuat kesalahan besar dengan membebaskan otoritas Vatikan melalui Perjanjian Lateran. Bahkan Kekaisaran Romawi dan Kerajaan Awal Italia Bersatu tidak pernah membiarkan Vatikan lepas dari kontrol pemerintah pusat sebab Vatikan sebagai otoritas tertinggi Gereja Katolik Roma dipandang sebagai pemimpin agama yang terpisah dari kepentingan politik. Oleh karena itu kekuasaan Vatikan dibatasi oleh  pemerintah pusat Romawi dan Italia. Namun Mussolini mengubah tradisi tersebut. Dengan membebaskan Vatikan artinya Mussolini gagal menempatkan Vatikan di bawah pengawasan pemerintah Italia seperti pada masa lalu dan ini berakibat fatal sebab Mussolini membuat kekuasaan Vatikan seolah-olah tidak tersentuh. Berbeda dangan Nazi, Hitler berhasil merangkul kaum Rohaniwan untuk mendukung pemerintahannya  sementara Mussolini dengan membebaskan Vatikan bukan saja ia gagal menggalang dukungan kaum Rohaniwan, namun tentunya kaum Rohaniwan itu akan berbalik menyerangnya mengingat dengan bebasnya Vatikan maka mutlak kekuasaan Paus seperti masa setelah runtuhnya Romawi Barat. Inilah kesalahan besar Mussolini padahal jika Vatikan tetap ada di bawah kontrol Italia maka akan mudah bagi Mussolini untuk menarik dukungan kaum Rohaniwan sebab para pemuka agama merupakan salah satu elemen terpenting bagi negara yang mempercayai adanya Tuhan dan agama. Bahkan diisukan bahwa Vatikan menjadi salah satu wadah Kaum Konspirasi untuk menumbagkan rezim Fasis/Nazi.

Edited : Aster Prescott
Source : fajarifai.blogspot.com, alifrafikkhan.blogspot.com



Artikel Terkait NSDAP


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentar yang baik atau lebih baik diam. Dilarang keras untuk iklan yang berbau judi, pornografi dan syirik! Jika terpaksa Anda inginkan iklan juga, di sebelah samping kanan ada text box silahkan iklankan kehendak Anda disana. Terima kasih atas pengertian Anda. Semoga Allah merahmati Anda...

-Aditya Von Herman

Über Mich

Foto saya

Herman is a student from University of BSI Margonda Depok, Indonesia major of Computer Engineering. He is the author of www.asterprescott.blogspot.com, www.explorejakartahere.blogspot.com as an article publisher, administrator and moderator on his own personal web blog since February 2013.