LISTEN TO THIS
DENGAR INI

After poorness there will be richness, after being thirsty there will be freshness, after parting there will be a meeting, after rift there will be adhesiveness, after disconnect will being reconnected and after you cannot sleep at night you could be sleep well after it.

Setelah kefakiran itu ada kekayaan, setelah kehausan akan ada kesegaran, setelah perpisahan akan ada pertemuan, setelah keretakan akan ada kerekatan, setelah terputus akan tersambung kembali dan setelah tidak tidur malam Anda akan dapat tidur pulas.

I knew something in this life, is not necessary need to be strong but to feel strong...

Saya tahu sesuatu dalam hidup, adalah tidak penting untuk menjadi kuat tetapi bersikap kuat...

Wir Eingeschlagen Haben Und Zu Weit Zurück Zu Gehen, Gehen Sie Auf!

Kita Sudah Memulai Dan Terlalu Jauh Untuk Kembali, Lanjutkan!




Selasa, 22 Oktober 2013

Rafael Castro, Islam Hargai Waktu

Mualaf ilustrasi


Rafael Castro yang kelahiran Italia besar dan tumbuh dalam lingkungan Katolik yang taat.Tapi, Castro jarang mengikuti layanan minggu. Ini karena, ia telah memiliki pilihannya sendiri.

"Bagaimana mungkin Tuhan telah memberikan saya sebuah keluarga yang telah mengajariku agama berdasarkan tradisi ketimbang inspirasi dari iman yang tulus," kenang dia seperti dilansir Onislam.net, Senin (21/10).

Memasuki sekolah menengah, pertanyaan ekstensial mulai mengganggunya. Ia perlahan mengakui kebutuhan komunikasi kepada Tuhan. "Tapi dimana saya mencari Tuhan," kata dia.

Beruntung, pertanyaan itu mulai terjawab. Castro memiliki teman asal Indonesia yang meminjamkan salinan Alquran. Sayang, ia terlalu banyak dicuci otak film-film Hollwood dan informasi negatif tentang Islam. Ini yang menghambatnya guna mendalami ajaran Islam.

Pada usia 18 tahun, Castro mulai tertarik dengan Yudaisme.Ia kagum karena konsep monoteisme. Berbeda dengan kepercayaannya yang membingungkan.Ketertarikan itu ia implementasikan dengan mengikuti sekolah Rabi. Berjam-jam ia mempelajari ajaran Yahudi.

Semakin mendalami ajaran Yahudi, ia temukan banyak pertanyaan. Pertama, ajaran Yahudi hanya dikhususkan untuk kalangan Israel saja. Agama ini bukan untuk bangsa lain. Ia pun merasakan perbedaaan perlakuan antara penganut Yahudi diluar bangsa Israel.

Keraguan terhadap Yahudi terjawab ketika ia menyaksikan film Iran. Film ini yang menghilangkan stereotif negatif tentang Islam dan Muslim. Satu kesimpulan didapatnya, Islam ternyata menawarkan pandangan dunia yang lebih menghormati martabat manusia dan pengorbanan diri.

"Islam melihat manusia itu sama, yang membedakan hanya tingkat keimannya. Yang membuat saya takjub jelas kebersamaan dalam masjid," kenangnya

Hal lain yang membuat Castro kagum adalah keindahan dan kemuliaan Islam dalam menghargai waktu. Sebelum Islam, waktu banyak terbuang percuma. "Ketika saya menjadi Muslim, saya bangun pagi guna melaksanakan shalat Subuh. Melalui shalat Shubuh, Islam menawarkan satu kesempatan memotivasi diri, introspeksi dan rasa murah hati," kata dia.

Dalam dua bulan, selepas Castro menjadi Muslim, ia semakin memahami Islam itu implementasi rasa serah diri pada manusia kepada pencipta-Nya. "Keputusan saya menjadi Muslim merupakan hal berharga dalam hidup saya," kata dia.

Edited : Aster Prescott
Source : republika.co.id



Artikel Terkait Mualaf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentar yang baik atau lebih baik diam. Dilarang keras untuk iklan yang berbau judi, pornografi dan syirik! Jika terpaksa Anda inginkan iklan juga, di sebelah samping kanan ada text box silahkan iklankan kehendak Anda disana. Terima kasih atas pengertian Anda. Semoga Allah merahmati Anda...

-Aditya Von Herman

Über Mich

Foto saya

Herman is a student from University of BSI Margonda Depok, Indonesia major of Computer Engineering. He is the author of www.asterprescott.blogspot.com, www.explorejakartahere.blogspot.com as an article publisher, administrator and moderator on his own personal web blog since February 2013.