LISTEN TO THIS
DENGAR INI

After poorness there will be richness, after being thirsty there will be freshness, after parting there will be a meeting, after rift there will be adhesiveness, after disconnect will being reconnected and after you cannot sleep at night you could be sleep well after it.

Setelah kefakiran itu ada kekayaan, setelah kehausan akan ada kesegaran, setelah perpisahan akan ada pertemuan, setelah keretakan akan ada kerekatan, setelah terputus akan tersambung kembali dan setelah tidak tidur malam Anda akan dapat tidur pulas.

I knew something in this life, is not necessary need to be strong but to feel strong...

Saya tahu sesuatu dalam hidup, adalah tidak penting untuk menjadi kuat tetapi bersikap kuat...

Wir Eingeschlagen Haben Und Zu Weit Zurück Zu Gehen, Gehen Sie Auf!

Kita Sudah Memulai Dan Terlalu Jauh Untuk Kembali, Lanjutkan!




Rabu, 11 Desember 2013

Artikel Lengkap Tentang KNIL, Ini Dia Pasukan Andjing Belanda (NICA)

Prajurit-prajurit KNIL yang sedang menonton pertandingan sepak bola, dalam rangka ulang tahun KNIL yang kedua Battalion Infantry V 'Andjing Nica'

KNIL dalam suatu parade militer

Kumpulan tentara KNIL, jika sobat perhatikan gambar diatas terlihat orang-orang Belanda, Jawa, Ambon berfoto bersama

Andjing NICA badge


KNIL logo


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, KNIL adalah singkatan dari bahasa Belanda (het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger), atau secara harafiah, Tentara Kerajaan Hindia-Belanda. Meskipun KNIL melayani pemerintahan Hindia-Belanda, banyak di antara anggota-anggotanya adalah penduduk bumiputra di Hindia-Belanda dan orang-orang Indo-Belanda, bukan orang-orang Belanda. Di antara mereka yang pernah menjadi anggota KNIL pada saat menjelang kemerdekaan adalah Mangkunegara VII, Sultan Hamid II, Oerip Soemohardjo, E. Kawilarang, A.H. Nasution, Gatot Soebroto dan T.B. Simatupang yang kelak memegang peranan penting dalam pengembangan dan kepemimpinan di dalam angkatan bersenjata Indonesia.

Sejarah Terbentuknya KNIL Oleh Belanda

Ketika berlangsung Perang Diponegoro, pada tahun 1826-1827 pemerintah Hindia Belanda membentuk satu pasukan khusus. Setelah Perang Diponegoro usai, pada 4 Desember 1830 Gubernur Jenderal van den Bosch mengeluarkan keputusan yang dinamakan "Algemeene Orders voor het Nederlandsch-Oost-Indische leger" di mana ditetapkan pembentukan suatu organisasi ketentaraan yang baru untuk Hindia-Belanda, yaitu Oost-Indische Leger (Tentara India Timur) dan pada tahun 1836, atas saran dari Raja Willem I, tentara ini mendapat predikat "Koninklijk".

Namun dalam penggunaan sehari-hari, kata ini tidak pernah digunakan selama sekitar satu abad, dan baru tahun 1933, ketika Hendrik Colijn yang juga pernah bertugas sebagai perwira di Oost-Indische Leger menjadi Perdana Menteri, secara resmi tentara di India-Belanda dinamakan Koninklijk Nederlands-Indisch Leger, disingkat KNIL.

Undang-Undang Belanda tidak mengizinkan para wajib militer untuk ditempatkan di wilayah jajahan, sehingga tentara di Hindia Belanda hanya terdiri dari prajurit bayaran atau sewaan. Kebanyakan mereka berasal dari Perancis, Jerman, Belgia dan Swiss. Tidak sedikit dari mereka yang adalah desertir dari pasukan-pasukannya untuk menghindari hukuman. Namun juga tentara Belanda yang melanggar peraturan di Belanda diberikan pilihan, menjalani hukuman penjara atau bertugas di Hindia Belanda. Mereka mendapat gaji bulanan yang besar. Tahun 1870 misalnya, seorang serdadu menerima f 300,-, atau setara dengan penghasilan seorang buruh selama satu tahun.

Dari catatan tahun 1830, terlihat perbandingan jumlah perwira, bintara serta prajurit antara bangsa Eropa dan pribumi dalam dinas ketentaraan Belanda. Di tingkat perwira, jumlah pribumi hanya sekitar 5% dari seluruh perwira; sedangkan di tingkat bintara dan prajurit, jumlah orang pribumi lebih banyak daripada jumlah bintara dan prajurit orang Eropa, yaitu sekitar 60%. Kekuatan tentara Belanda tahun 1830, setelah selesai Perang Diponegoro adalah 603 perwira bangsa Eropa, 37 perwira pribumi, 5.699 bintara dan prajurit bangsa Eropa, 7.206 bintara dan prajurit pribumi.

Tahun 1936, jumlah pribumi yang menjadi serdadu KNIL mencapai 33 ribu orang, atau sekitar 71% dari keseluruhan tentara KNIL, di antaranya terdapat sekitar 4.000 orang Ambon, 5.000 orang Manado dan 13.000 orang Jawa.

Apabila meneliti jumlah perwira, bintara serta prajurit yang murni orang Belanda terlihat, bahwa sebenarnya jumlah mereka sangat kecil. Pribumi yang mencapai pangkat tertinggi di KNIL adalah Kolonel KNIL Abdulkadir Widjojoatmodjo, yang tahun 1947 memimpin delegasi Belanda dalam perundingan di atas kapal perang AS Renville, yang membuahkan Persetujuan Renville. Seorang Indonesia, Sultan Hamid II dari Pontianak, yang dididik oleh dua wanita Inggris, mencapai pangkat Mayor Jenderal dalam posisi Asisten Politik Ratu Juliana.

KNIL Andjing NICA


Batalyon V KNIL ANDJING NICA merupakan kesatuan militer NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda yang dibentuk pasca kemerdekaan RI) yang paling brutal dan ganas di zaman revolusi Indonesia (1945-1950). Batalyon Infanteri V KNIL Andjing NICA adalah satuan reaksi cepat yang biasa bertempur dengan gaya beringas dan brutal layaknya Pasukan Marsose Belanda di Aceh dulu. Batalyon ini terlibat di berbagai front-front pertempuran melawan TNI dan pejuang Indonesia terutama di pulau Jawa.

Batalyon V terbentuk pada 2 Desember 1945. ketika ‘masa bersiap’ mencekam banyak orang Eropa maupun Ambon dan Menado. Nyawa mereka terancam oleh kacaunya revolusi Indonesia yang diwarnai kebencian kepada hal-hal berbau Belanda, termasuk orang-orang Belanda dan semacamnya. Tidak heran jika banyak orang-orang Belanda dan Ambon pro Belanda menaruh dendam atas kebencian orang-orang Indonesia di kemudian hari. Dua bulan, antara September hingga November, setidaknya menjadi masa mengerikan bagi beberapa orang itu.

Terbentuknya batalyon V dianggap bisa menjadi solusi mereka. Dengan bersenjata dan berpasukan, mereka bisa menjaga diri dan terlepas dari rasa takut atas serangan kekacauan revolusi. Masa mencekam itu segera tertutup oleh rasa benci tak terhingga pada orang-orang Indonesia pro-kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Batalyon V bertempur dengan ganasnya. Banyak bekas pejuang kemerdekaan mengetahui betapa mengerikannya pasukan ini jika bertempur. Pasukan ini menyebut dirinya sebagai Andjing NICA. Lambang badge atau emblem kebanggan mereka adalah logo anjing galak berwarna merah. Batalyon ini terlibat dalam beberapa serangan militer Belanda ke Jawa Tengah. Di seragamnya, mereka selalu menuliskan kata “Andjing NICA”. Masyarakat Indonesia kemudian lebih mengenal pasukan ini sebagai Andjing NICA!!, julukan mengerikan sekaligus sarat ejekan.

Replika badge dari Batalyon Andjing NICA


Istilah Andjing NICA lebih banyak diketahui orang sebagai julukan atau stigma kepada orang-orang Indonesia pro Belanda. NICA sendiri adalah pemerintahan sipil di Hindia Belanda. Sebuah badan untuk mengambil-alih kembali kekuasaan belanda atas Hindia Belanda sebagai bagian dari republik Indonesia. Orang Indonesia pro Belanda tersebut biasanya, orang-orang pribumi/Indonesia yang menjadi pegawai sipil maupun militer pada pemerintah Hindia Belanda.

Selain batalyon V,ada juga batalyon X KNIL yang berkedudukan di Senen, tepatnya di bekas daerah yang kini menjadi Hotel Borobudur. Batalyon ini terdapat banyak orang Ambon sebagai serdadu bawahannya. Mereka tidak kalah ganasnya kepada orang-orang Indonesia pro republik.

Dari batalyon X ini, Westerling memperoleh banyak pasukan untuk dijadikan inti dari Depot Speciale troepen (DST/KST). Mereka terlibat dalam “kampanye pasisfikasi” ala westerling di Sulawesi Selatan yang kemudian membantai banyak pejuang RI dan masyarakat disana.

Batalyon X di Senen banyak beranggotakan orang-orang temperamental. Mereka mudah tersulut emosinya. Hingga mereka sering bentrok dengan pemuda-pemuda Indonesia, terutama yang pro republik. Orang-orang biasa menyebut pasukan ini Belanda Hitam. Mereka dianggap lebih belanda daripada orang belanda sendiri.

Beberapa serdadu KNIL asal Ambon, yang kerap bikin onar di Senen, bernama Wimpie, Albert, Mingus Gerardus dan Polang, konon pernah menyuruh orang republik Indonesia yang mereka temui untuk menelan lencana merah putih yang dikenakannya.

Nyaris tidak ada gambaran positif dari orang Indonesia tentang Andjing NICA. Andjing NICA bertempur dengan ganasnya. Layaknya marsose dimasa perang aceh. Dimana bertempur adalah dengan penuh kebencian. Bukan bertempur dengan kehormatan. Mereka bertempur untuk Nederlands Indies Civil Administration (NICA) pemerintah sipil di Hindia Belanda yang baru dibentuk dan berkuasa atas nama kerajaan Belanda di Indonesia selama revolusi. Tentu sangat tepat jika mereka menjuluki diri mereka, atau orang lain menjuluki mereka, Andjing NICA. Sekelompok "hewan buas' yang mengabdi tanpa batas pada "majikan'nya.

Pembubaran KNIL

Surat resmi pembubaran KNIL oleh Ratu Juliana


Sekumpulan pembela ratu Singa itu harus terima kenyataan pahit. Mereka harus dikalahkan oleh Diplomasi yang berpihak pada Indonesia. Padahal, mereka baru saja sukses mendesak kekuatan militer Indonesia pada 19 Desember 1948. Dimana Militer Indonesia hanya bisa bergerilya. Para pembela ratu Singa itu nyaris sukses dengan semakin luasnya wilayah pendudukan Belanda.

Merekalah Koninklijke Nederlandsch Indische Leger. Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Hampir 75% anggotanya adalah pribumi Indonesia. Lebih dari 100 tahun mereka menegakan kekuasaan Hindia Belanda di nusantara. Dimana banyak pemberontakan suci kaum pribumi yang ingin bebas dari kekuasan asing ditindas. Itulah tugas KNIL. Tugas serdadu atau militer professional yang baru muncul di Indonesia. Ada yang menyebut KNIL serdadu bayaran, walau sebenarnya KNIL adalah tentara regular. Seorang penyair menyebutnya bandit VOC.

Meski sempat vakkum di Indonesia, semasa pendudukan Jepang, KNIL dibangun lagi dengan persenjataan lebih canggih dan kostum yang berbeda dibanding sebelum Jepang datang. Dengan pasukan baru yang terdiri dari orang rekrutan dari kamp tahanan Jepang dan lainnya, KNIL tampil lagi sebagai pembela Ratu Singa. Tugas mereka bukan melawan pemberontak, melainkan Negara baru.

Dengan dukungan lebih dari 3 divisi KL dari Negeri Belanda, yang sebagian ogah-ogahan bertempur lawan Negara merdeka, KNIL begitu bersemangat menghabisi kekuatan bersenjata Indonesia. KNIL jauh lebih bersemangat dan lebih bisa diandalkan daripada KL dari Belanda.

KNIL pun tampil sebagai musuh tentara dan orang Indonesia. Dimana banyak militer Indonesia dulunya juga mantan KNIL sebelum revolusi. KNIL asli Indonesia tampak lebih beringas daripada KL yang Belanda asli. Hingga mereka kerap disebut Belanda Item. Selama beberapa tahun revolusi, KNIL cukup sukses bertempur.

Hingga datanglah KMB (Konferensi Meja Bundar) yang begitu menguntungkan Indonesia sebenarnya. Jadilah KNIL sebagai orang kalah secara politis. Ternyata kemenangan militer Belanda tidak diikuti kemenangan politis dalam diplomasi. Serdadu-serdadu KNIL lalu gelisah. Sebuah poin KMB adalah bahwa KNIL akan dimasukan dalam TNI. Padahal TNI adalah musuh KNIL selama hampir lima tahu revolusi Indonesia.

Parahnya lagi gaji mereka di TNI nantinya jauh lebih rendah daripada semasa mereka di KNIL. Di TNI mereka hanya terima upah f. 4 seminggu. Sementara di KNIL mereka bisa terima f. 140 sebulan. Sebuah kondisi yang makin pahit. Kalah secara politis dan terancam miskin. Belum lagi mereka akan bertemu orang-orang bekas musuh mereka yang sudah dipastikan akan memusuhi mereka di barak. Para serdadu KNIL pun mulai gelisah. Masalah gajih dan kawan yang dulunya musuh yang masih sulit menerima kehadiran meraka. Kebiasaan buruk mereka pada minuman keras, dan sikap temperamental serdadu KNIL, yang tidak bisa diragukan lagi, tentu semakin tidak terkontrol atas kondisi buruk politik Indonesia. Mereka cenderung indisipliner.

Pasca penandatangan KMB, 27 Desember 1949, pikiran mereka terganggu. Hingga dengan mudah diajak oleh jaringan Westerling untuk bertindak rusuh. Kekecewaan KNIL di Makassar pun tidak terbendung lagi. Sepasukan TNI yang terdiri dari satu batalyon pimpinan mayor Hein Worang dikirim ke Makassar. Pemerintah RI begitu bernafsu dan gegabah mengirimkan pasukan Worang. KNIL di Makassar itu menolak kedatangan pasukan pemerintah karena merekalah yang brwenang menjaga kota Makassar. Peristiwa Andi Azis tentu tidak akan terjadi jika pasukan TNI tidak dikirim kesana. Pemerintah harusnya bersbar dan menunda pasukan Worang mendarat. Karenanya, bentrokan KNIL dan TNI disana tidak bisa dihindari.

Agenda pembubaran KNIL 26 Juli 1950, tentu membuat banyak KNIL frustasi. Meski mereka diberi pilihan untuk masuk TNI atau masuk KL dan ikut ke Negeri Belanda. Selama masa penantian itu mereka biasa berbuat rusuh. Mereka begitu tempramentalnya dengan membuat keributan. Mereka tampak belum puas bertempur melawan tentara Indonesia. Sebelum KNIL dinyatakan bubar pada 26 Juli 1950, beberapa kerusuhan antara KNIL dan TNI kerap terjadi. Seperti di Bandung, Jakarta, Bogor, Makassar dan Malang. Di Jakarta, Bandung dan Bogor masih terkait dengan peristiwa Westerling.

Di Makassar adalah peristiwa Andi Azis. Dimana Kapten Andi Azis yang sudah masuk TNI harus terkena getah dari serdadu gelisah. Pengaruhnya atas pasukan KNIL di Makassar membuatnya terseret dalam masalah yang biangnya adalah pemerintah RI di Jawa yang memaksakan diri untuk mengirim pasukan TNI ke Makassar.

Dan di Malang tidak banyak diketahui. Dimana sekelompok serdadu KNIL, dari suku Ambon, membuat keributan di Alun-alun Malang. Mereka beselisih dengan orang-orang China. Semula terjadi cek-cok di Bioskop REX Malang. Yang kemudian berlanjut dengan baku tembak di dekat restoran China dekat Alun-alun. 
Rupanya, banyak juga anggota KNIL dan KL di bioskop. Namun mereka memilih tidak ikut dalam keributan. Karena mereka mengakui kekalahan mereka dalam revolusi Indonesia. Mereka merasa Indonesia adalah Negara merdeka. Sebagai militer mereka hanya mennggu nasib. Ke Belanda atau masuk TNI.

Diantara serdadu gelisah itu. Banyak juga yang memilih tidak bersikap temperamental. Gelisah adalah hal yang biasa dialami di masa perang. Mereka gelisah soal masa depan mereka pasca perang. Inilah yang dialami banyak serdadu KNIL. Hilangnya pekerjaan. Hilangnya kehidupan yang sebelumnya nyaman. Mungkin masih banyak ketakutan akan kehilangan lagi.

Serdadu bawahan KNIL yang hidupanya keras, apalagi pasca revolusi Indonesia yang membuat mereka harus kalah, membuat mereka menjadi orang yang nampak berbahaya bagi banyak orang Indonesia. Mereka kerap dijauhi. Seperti dialami Geritz Kakisima, seorang mantan KNIL dan NEFIS yang masuk TNI. Letnan itu sangat dijauhi meski keahlian militer yang diperlukan TNI. Dimasa lalu, zaman revolusi, mereka dicap sebagai pengkhianat dan musuh. Tidak heran jika kemudian mereka membuat iri para bekas pejuang yang tidak bisa diterima dalam TNI.

Begitulah nasib KNIL yang harus tumbang oleh revolusi Indonesia. Dan serdadu-serdadunya yang gelisah pun ikut tertelan sejarah di kemudian hari. Mereka hanya bisa timbulkan keributan-keributan menjelang mereka dibubarkan.
Pada tanggal 25 Juli 1950, Dirk Cornelis Buurman van Vreeden komandan KNIL menyerahkan markas besar KNIL ke Tentara Nasional Indonesia. Buurman adalah komandan KNIL terakhir menggantikan Simon Hendrik Spoor yang meninggal pada tanggal 25 Mei 1949.

Berdasarkan keputusan kerajaan tanggal 20 Juli 1950, maka pada 26 Juli 1950 pukul 00.00, setelah berumur sekitar 120 tahun, KNIL dinyatakan bubar.

Berdasarkan hasil keputusan Konferensi Meja Bundar, mantan tentara KNIL yang jumlahnya diperkirakan sekitar 60.000 yang ingin masuk ke "Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat" (APRIS) harus diterima dengan pangkat yang sama. 

Jumlah orang KNIL dari Ambon diperkirakan sekitar 5.000 orang, yang sebagian besar ikut dibawa ke Belanda dan tinggal di sana sampai sekarang.

Fakta Unik dibalik Kegarangan Pasukan KNIL

 

Fakta unik ini berdasarkan studi Capt. R.P. Suyono terhadap berbagai literatur Belanda yang dtuangkannya dalam buku Peperangan Kerajaan di Nusantara (penelusuran kepustakaan sejarah), terbitan Grasindo tahun 2003.

1. Seragam KNIL

Sejak dibentuk pada tahun 1830, seragam KNIL selalu mengalami pergantian. Pada tahun 1894 seragam KNIL  dinamakan syako dengan topi helm dari gabus. Topi gabus tersebut baru diganti pada tahun 1910 dengan bahan yang terbuat dari bambu. Pada tahun 1915 KNIL mendapat seragam baru yang tebal dan susah dicuci sehingga akhirnya diganti dengan bahan linen dengan celana yang lebih tipis. Pada tahun 1936 seragam KNIL adalah kain hijau yang dinamakan tenunan Garut.

Fakta lain adalah ketika berada di tangsi, hanya perwira dengan pangkat minimal Sersan rata-rata orang Eropa yang boleh mengganti baju dengan pakaian biasa sedangkan para prajurit pribumi dilarang mengganti baju sehingga selalu memakai seragam. Entah berapa banyak seragam yang dimiliki oleh para prajurit pribumi ini, jika cuma satu berarti tidak pernah digantinya.

2. Kehidupan di Tangsi

Tangsi merupakan tempat tinggal para prajurit KNIL, entah yang masih bujangan maupun yang sudah menikah. Tangsi biasanya dibangun di tengah kota, mungkin untuk mempermudah akses. Prajurit yang masih bujangan tidur di barak yang tempat tidurnya berjejer sedangkan yang sudah menikah baraknya disekat dengan ukuran 3×4 meter. Ruangan ini hanya cukup untuk satu tempat tidur saja, oleh karena itu anak-anaknya ditempatkan di bawah kolong tempat tidur sehingga muncul istilah anak kolong bagi anak-anak polisi atau tentara.

3. Dardanel

Dardanel merupakan sebutan bagi seorang prajurit pribumi yang harus menjaga keselamatan seorang perwira Belanda yang menjadi atasannya. Ternyata perwira Belanda cukup pengecut karena harus dilindungi oleh seorang prajurit pribumi. Mungkin hal ini juga didasarkan pada pertimbangan bahwa pasukan akan kocar kacir jika kehilangan komandannya. Doktrin yang ditanamkan pada seorang dardanel adalah sungguh memalukan atau nista jika seorang dardanel selamat sedangkan perwira yang dilindunginya meninggal. Dengan kata lain dardanel tersebut harus rela mengorbankan nyawanya bagi perwira yang dilindunginya.

4. Kebiasaan Prajurit Jawa

Selain tidak memakai sepatu hingga tahun 1905 dan tergabung dalam kompi yang bertugas untuk menenangkan dan menetralisir situasi pasca peretempuran, prajurit Jawa juga memiliki keunikan dari kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan. Kebiasaan tersebut adalah sangat bergantungnya prajurit Jawa pada bakul jamu. Mungkin jamu mengembalikan stamina mereka setelah bertempur.

Demikian sob, panjang lebar artikel kita yang satu ini, semoga hobby membaca selalu tertanam dalam diri kalian putera puteri anak bangsa indonesia. Semoga bermanfaat, bis bald und guten Abend... 

Reorganized And Edited By : Aster Prescott
Source : jogjaicon.blogspot.com, id.wikipedia.org, maspetrik.com, sejarah.kompasiana.com, pasbanget.co, google.com



Artikel Terkait Education


1 komentar:

  1. Artikel bagus, jd paham knp Indonesia bisa bgitu lama di jajah bngsa asing, AL, krn bnyaknya pengkhianat2 yg menari2 di atas bangkai bangsanya sendiri, spt tentara KNIL ini.

    BalasHapus

Berkomentar yang baik atau lebih baik diam. Dilarang keras untuk iklan yang berbau judi, pornografi dan syirik! Jika terpaksa Anda inginkan iklan juga, di sebelah samping kanan ada text box silahkan iklankan kehendak Anda disana. Terima kasih atas pengertian Anda. Semoga Allah merahmati Anda...

-Aditya Von Herman

Über Mich

Foto saya

Herman is a student from University of BSI Margonda Depok, Indonesia major of Computer Engineering. He is the author of www.asterprescott.blogspot.com, www.explorejakartahere.blogspot.com as an article publisher, administrator and moderator on his own personal web blog since February 2013.