LISTEN TO THIS
DENGAR INI

After poorness there will be richness, after being thirsty there will be freshness, after parting there will be a meeting, after rift there will be adhesiveness, after disconnect will being reconnected and after you cannot sleep at night you could be sleep well after it.

Setelah kefakiran itu ada kekayaan, setelah kehausan akan ada kesegaran, setelah perpisahan akan ada pertemuan, setelah keretakan akan ada kerekatan, setelah terputus akan tersambung kembali dan setelah tidak tidur malam Anda akan dapat tidur pulas.

I knew something in this life, is not necessary need to be strong but to feel strong...

Saya tahu sesuatu dalam hidup, adalah tidak penting untuk menjadi kuat tetapi bersikap kuat...

Wir Eingeschlagen Haben Und Zu Weit Zurück Zu Gehen, Gehen Sie Auf!

Kita Sudah Memulai Dan Terlalu Jauh Untuk Kembali, Lanjutkan!




Kamis, 27 Februari 2014

Membaca Alquran Seperti Berbicara Dengan Orang Tua Yang Selalu Ada Ketika Membutuhkan Dan Menghukum Ketika Salah

Lafadz Syahadat


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, ketika orang mengetahui bahwa saya seorang muslim apalagi setelah tragedi 11 September mereka selalu bertanya,”Mengapa anda muslim, anda tampak seperti orang yang rasional?” Dellie Spencer jr menjawab “Saya adalah orang yang rasional itulah sebabnya saya menjadi muslim,”.

Dellie telah memeluk Islam selama Sembilan tahun sejak tragedi pemboman WTC di Amerika Serikat nama muslimnya adalah Abdul Wadoud. Dellie mengenal Islam bukan agama yang harus ditakuti seperti pedang yang memaksa. Hukum syariah yang menjadi bagian islam bukan pula sesuatu yang digunakan untuk menakut-nakuti atau memaksa orang untuk berperilaku tepat. Islam adalah agama untuk orang-orang yang berpikir. Mereka yang merenungkan dunia dan alam sekitar. Mereka yang mengetahui bahwa tidak ada kebetulan yang terjadi didunia karena ada Allah yang memerintah dan hukum Allah sebagai aturan yang jelas. Hal itulah yang menjadi alasan kenapa orang rasional menjadi seorang muslim.

Dellie lahir di Cleveland, Ohio. Dia dibesarkan di gereja bersama dengan dua saudaranya yang selalu menghadiri sekolah minggu di gereja Sion. Setiap satu bulan dua kali dia selalu mengikuti camp kebaktian. Satu ketika pendeta memerintahkannya untuk pergi ke Houston, Texas dalam acara pertemuan besar pembaptisan.

Di saat acara itu Dellie mulai mempertanyakan ibadah dan doa pendeta. Menurutnya hal itu bukan jalan keselamatan tetapi hanya keramaian.

“Setelah pendeta khotbah, orang-orang hanya bertepuk tangan sambil berkata amin, tanpa mengetahui makna dibalik kata-kata pendeta,” ujarnya. Saat itulah terakhir kalinya dia datang ke gereja karena menurutnya dalam khotbah tersebut dia menyaksikan seseorang mencoba untuk menjual Tuhan.

Dellie kemudian menceritakan pada ibundanya untuk berhenti pergi ke gereja karena merasa terpaksa. Anehnya, ibunda Dellie pun tidak merasa keberatan.

Selama beberapa tahun ke depan, Dellie tidak pernah berpikir tentang agama. Dia masih menganggap seorang Kristen meski tidak menjalankan ritualnya. Dia tetap membaca Alkitab dan menyukai isi yang terkandung didalamnya. Tetapi Dellie tidak melihat alasan kebutuhan untuk mempraktikan agama.

Selama di bangku kuliah Deliie merasa bidang sprititualitas menjadi hal yang menarik. Dia membaca berbagai buku mengenai alam dan dunia. Sementara waktu dia menganggap dirinya seorang atheis, sesekali juga beragama Buddha Dia juga mempelajarai agama Tao, sesekali menghadiri layanan di gereja katolik.

Akhirnya Deliie memutuskan untuk mempercayai Tuhan tapi tidak dengan agamanya. Tetapi dia merasa haus dan kehilangan satu hal kemudian perlahan ingin kembali dalam agama Kristen.

“Namun kali ini saya tidak hanya membaca alkitab, saya mempelajarinya, namun saya masih tidak puas,”ujarnya. Hingga Dellie bertemu dengan seorang instruktur bela diri di New Orleans. Dia menyebutkan mengenai Yesua dan muslim percaya pada Yesus juga. Kemudian Dellie mempelajari tentang Islam dan kaum muslimin. Dia mempelajari buku-buku tentang Nabi Muhammad dan kecewa karena referensi utama selalu tertuju pada Alquran. “saya telah berkali-kali membaca kitab ini, awalnya tidak masuk akal,”ujarnya. Kemudian dia membaca Alquran kembali,seperti ia berbicara pada Tuhannya. “Ini membuatku takut, tapi memberi saya sebuah kenyamanan. Seolah-olah Allah berbicara langsung pada saya seperti orangtua lembut dan penuh perhatian dan penuh cinta,”ujarnya.

Membaca Alquran seperti berbicara dengan orang tua yang selalu ada ketika membutuhkan dan menghukum ketika salah. Hal itu membuat tak masuk akal tetapi seketika itu Alquran itu menjelaskan agama hanya satu dan menyembah hanya satu Tuhan, satu Tuhan tidak menyebutkan pasangan atau anak-anak. Delliepun mulai memahami makna surah Al Ikhlas.  Setelah itu Dellie mulai mencari referensi Islam lainnya termasuk Hadis.

Dia mengenal rukun Islam dan kemudian mengirim surat pada masjid lokal untuk menjadi mualaf. Dellie mengucapkan syahadat di rumahnya.

Edited : Aster Prescott
Source : republika.co.id, ressay.files.wordpress.com



Artikel Terkait Mualaf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentar yang baik atau lebih baik diam. Dilarang keras untuk iklan yang berbau judi, pornografi dan syirik! Jika terpaksa Anda inginkan iklan juga, di sebelah samping kanan ada text box silahkan iklankan kehendak Anda disana. Terima kasih atas pengertian Anda. Semoga Allah merahmati Anda...

-Aditya Von Herman

Über Mich

Foto saya

Herman is a student from University of BSI Margonda Depok, Indonesia major of Computer Engineering. He is the author of www.asterprescott.blogspot.com, www.explorejakartahere.blogspot.com as an article publisher, administrator and moderator on his own personal web blog since February 2013.