LISTEN TO THIS
DENGAR INI

After poorness there will be richness, after being thirsty there will be freshness, after parting there will be a meeting, after rift there will be adhesiveness, after disconnect will being reconnected and after you cannot sleep at night you could be sleep well after it.

Setelah kefakiran itu ada kekayaan, setelah kehausan akan ada kesegaran, setelah perpisahan akan ada pertemuan, setelah keretakan akan ada kerekatan, setelah terputus akan tersambung kembali dan setelah tidak tidur malam Anda akan dapat tidur pulas.

I knew something in this life, is not necessary need to be strong but to feel strong...

Saya tahu sesuatu dalam hidup, adalah tidak penting untuk menjadi kuat tetapi bersikap kuat...

Wir Eingeschlagen Haben Und Zu Weit Zurück Zu Gehen, Gehen Sie Auf!

Kita Sudah Memulai Dan Terlalu Jauh Untuk Kembali, Lanjutkan!




Minggu, 01 Juni 2014

Imigran Maroko Membuatnya Masuk Islam

Mualaf Ilustrasi


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Meriem Abricot dahulunya seorang penganut Katolik Ortodoks. Namun, ketika ibu dan neneknya meninggal, Meriem mulai meninggalkan agama. "Saya terlalu kecewa. Saya berhenti berdoa, namun tetap berkomunikasi dengan teman-teman yang masih percaya dengan agama," ucap dia seperti dilansir onislam.net, Sabtu (31/5).

Pertemuan Meriem dengan Islam bermula ketika ia berkenalan dengan imigran asal Maroko, Aljazair dan Tunisia. Yang menarik perhatian Meriem, mereka selalu mengkonsumsi makanan halal, tidak mengkonsumsi babi dan alkohol. Mereka pun melaksanakan shalat lima waktu.

"Jujur, saya selalu bertanya kepada mereka tentang kebiasaan itu. Jawabanya sederhana dan logis buat saya. Saya kagum," kata dia.

Pertemanan dengan Muslim membuat Meriem merasakan atmosfer ajaran Islam. Puncaknya, ketika ia melalui Ramadhan dengan teman Muslimnya itu. Meriem mulai belajar berpuasa, tidak mengkonsumsi babi apalagi mengkonsumsi alkohol.

"Tanpa says sadari, saya telah melakukan kebiasaan seorang Muslim," kenang dia

Tepat tahun ini, Meriem memutuskan menjadi Muslim setelah pendalaman dan diskusi yang panjang dengan temannya itu. Ia pun banyak membaca literatur Islam, dan tentunya Alquran. "Saya banyak mendapatkan informasi yang saya dibutuhkan di masjid. Di masjid pula, saya akhirnya memutuskan mengucapkan dua kalimat syahadat," kata dia.

Usai bersyadahat, banyak Muslim yang datang mengucapkan selamat. Pembimbingnya pun mengingatkan menjaga komitmen sebagai seorang Muslim merupakan hal yang tidak mudah. "Tidak mudah, tapi saya merasa didukung, dan ini yang membuat saya merasa nyaman," kata dia.

Sejak itu, mulailah Meriem mulai mempelajari bahasa Arab. Bahasa yang menurutnya mempermudah ia mempelajari Islam. Ia pun memberitahu keluarganya soal perubahan itu. Memang, Meriem sedari awal memahami bahwa keluarganya tidak akan dengan mudah menerima keislamannya.

"Saya memahami itu, mereka tentu khawatir dengan pemberitaan media yang menyudutkan Muslim," ucapnya.

Edited : Aditya Von Herman
Source : mutiarapublic.com, republika.co.id



Artikel Terkait Mualaf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentar yang baik atau lebih baik diam. Dilarang keras untuk iklan yang berbau judi, pornografi dan syirik! Jika terpaksa Anda inginkan iklan juga, di sebelah samping kanan ada text box silahkan iklankan kehendak Anda disana. Terima kasih atas pengertian Anda. Semoga Allah merahmati Anda...

-Aditya Von Herman

Über Mich

Foto saya

Herman is a student from University of BSI Margonda Depok, Indonesia major of Computer Engineering. He is the author of www.asterprescott.blogspot.com, www.explorejakartahere.blogspot.com as an article publisher, administrator and moderator on his own personal web blog since February 2013.