LISTEN TO THIS
DENGAR INI

After poorness there will be richness, after being thirsty there will be freshness, after parting there will be a meeting, after rift there will be adhesiveness, after disconnect will being reconnected and after you cannot sleep at night you could be sleep well after it.

Setelah kefakiran itu ada kekayaan, setelah kehausan akan ada kesegaran, setelah perpisahan akan ada pertemuan, setelah keretakan akan ada kerekatan, setelah terputus akan tersambung kembali dan setelah tidak tidur malam Anda akan dapat tidur pulas.

I knew something in this life, is not necessary need to be strong but to feel strong...

Saya tahu sesuatu dalam hidup, adalah tidak penting untuk menjadi kuat tetapi bersikap kuat...

Wir Eingeschlagen Haben Und Zu Weit Zurück Zu Gehen, Gehen Sie Auf!

Kita Sudah Memulai Dan Terlalu Jauh Untuk Kembali, Lanjutkan!




Rabu, 23 Juli 2014

Mereka Punya Bukti, Sampai Akhirnya Saya Meyakini Kebenaran Islam


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Semasa anak-anak, Maya Wallace mengaku termasuk yang pendiam dan tidak banyak memiliki teman. Lingkungannya hanya sekolah dan rumah kala itu. Di sekolah ia aktif di klub atletik dan gimnastik. Sedangkan, di rumah Maya bersama ibu dan saudara laki-lakinya pun lebih banyak menghabiskan waktu untuk menonton televisi dibanding bermain di luar rumah. Saat liburan pun, Maya memilih bermain boneka saja di dalam rumah dan memasak bersama ibunya. Rekreasi ke luar rumah biasa mereka lakukan saat musim panas. Maya dan saudara laki-lakinya akan mengunjungi kakek dan nenek mereka di Earshire, Skotlandia. Mereka berenang, bermain, belanja, dan memasak bersama.

Tidak ada kitab suci apa pun di rumah keluarga kelahiran Glasgow 1988 ini. Agama juga bukanlah topik yang sering Maya dengar dalam berbagai pembicaraan keluarga mereka. Mayoritas keluarga mereka merupakan saintis, tapi ilmu yang mereka miliki tidak memiliki dampak terhadap keyakinan atas Tuhan.

Menginjak remaja Maya sempat menanyakan agama keluarganya kepada ibunya, tapi tak banyak informasi yang didapatnya. Saat SMA, Maya memutuskan mengambil kelas agama. Ia ingin tahu tentang agama, tapi bukan untuk menjadi salah satu penganutnya. Ia hanya ingin memuaskan penasarannya tentang agama. Tapi yang Maya dapatkan tidak memuaskan, ia tidak mendapat jawaban logis soal mengapa manusia perlu beragama, misalnya. Guru di sekolahnya tidak mengajarkan Islam dan informasi yang ia dapat tentang agama ini hanya hal-hal negatif.

“Mendengar itu saya merasa tampaknya saya tidak akan jadi Muslim saat itu,” ujar Maya. Ia mengaku tumbuh seperti remaja Inggris pada umumnya, pergi clubbing dan minum alkohol.

Hingga pada 2005, Maya bergabung di sebuah call center kegiatan sosial. Di sana, teman-teman Maya didominasi Muslim Pakistan. Mereka jauh berbeda dengan apa yang selama ini ada di pikiran Maya tentang Islam. Baru kali itu Maya merasakan pertemanan yang sebenarnya. Teman-temannya justru memberi pengaruh positif. Mereka saling peduli dan menghormati Maya meski berbeda keyakinan.

Memasuki Ramadhan, semua Muslim di call center berpuasa. Tapi, seorang teman Maya yang juga Muslim sengaja membawa sekotak makan siang untuk Maya. Maya juga sering diajak makan bersama saat waktu berbuka puasa tiba.

“Saya penasaran, mengapa melakukan itu? Mengapa mereka sengaja melaparkan diri?” tanya Maya. 
Ia lalu mulai bertanya mengapa mereka memilih Islam, apa itu Islam, dan terus bertanya. Yang membuat Maya terkejut, yakni semua yang dilakukan teman-teman Muslimnya selalu memiliki landasan baik dari Alquran maupun hadis. Saat mereka tidak bisa menjawab, mereka akan dengan terbuka mengatakan tidak tahu dan mencari tahu dulu.
“Mereka punya bukti. Sampai akhirnya saya meyakini kebenaran Islam,” kata Maya.

Tapi, ia tidak segera memutuskan menjadi Muslimah. Ia belajar tentang Islam lebih jauh. Ia tahu, saat menjadi Muslimah maka yang berubah tidak hanya keyakinan, tapi juga semua aspek hidupnya. Meski sempat ragu apakah ia akan bisa menjalankan kewajiban sebagai Muslim jika ia akhirnya berislam, Maya membuat masa percobaan. Ia mulai berhenti makan makanan haram, berhenti pergi ke klub malam, dan mulai menggunakan pakaian yang menutup aurat. Ternyata, ia bisa melakukannya. Tapi hatinya masih berkecamuk, salah satunya karena ia memikirkan cara mengatakan tentang keyakinannya kepada keluarga. Berulang kali Maya mengumpulkan keberanian setiap ibunya menjemputnya dari asrama kampus pada akhir pekan. Hingga akhirnya, Ramadhan datang kembali. Maya ingin menjadi Muslimah pada bulan itu. Ia lalu memberanikan diri menyampaikan keyakinannya kepada ibunya beberapa pekan sebelum Ramadhan. Orang tua Maya tidak bereaksi berlebihan dan hanya bertanya mengapa dan pembicaraan mereka tentang pilihan hidup Maya tidak terlalu dalam setelah itu.

“Itu di luar dugaan, tidak seperti yang saya takutkan. Saya jadi merasa bodoh karena membuang waktu,” ujar Maya.
Di Central Masjid di Glasgow pada Jumat tahun 2009, Maya akhirnya bersyahadat. Ia mengajak teman dan keluarganya untuk ikut. Ia juga meminta jamaah shalat Jumat untuk tetap di sana menyaksikannya menjadi Muslim.

“Saya ingin semua orang tahu, saya menemukan jawaban yang saya cari,” katanya. Ia merasa jalannya menjadi Muslimah sangat dimudahkan. Dukungan dari teman begitu kuat dan keluarga pun tidak mempersulit.

BerjilbabTantangan lain datang saat ia mulai mengikuti kelas bimbingan Islam. Ia tahu kewajiban Muslimah untuk berjilbab. Namun, saat itu ia masih belum mau. Perlahan-lahan, ia mendidik dirinya untuk mencari tahu apa itu jilbab. Sampai satu ketika seorang Muslimah menawarinya permen, satu dibungkus dan yang satunya terbuka. Muslimah itu bertanya mana yang akan Maya pilih dan ia memilih yang tertutup.

Maya menuturkan perkataan temannya, begitulah Islam memperlakukan Muslimah. Apa yang berharga haruslah ditutup dan dilindungi. 
“Saya jadi mengerti mengapa Allah STW mengharuskan Muslimah berjilbab,” kata Maya.

Namun, orang tua Maya menolak dan menangis atas keputusan putrinya. Kepada teman Muslimnya, Zahra, Maya sempat mengatakan menyerah dan tidak akan berjilbab. Namun, Zahra meyakinkan Maya, Allah SWT tidak akan memberi ujian yang tidak mampu dilalui Maya.

Pada hari kelulusan perguruan tinggi, seluruh keluarganya hadir. Maya menghindari mereka agar mereka tak melihat dirinya yang sudah berjilbab. Maya bisa melihat keterkejutan keluarganya saat ia turun dari panggung setelah menerima ijazah kelulusan. Ia lalu menghampiri keluarganya dan menyapa kakeknya. Tidak banyak yang dikatakan kakeknya. 
“Ia hanya mengatakan, selendang peninggalan nenek boleh saya ambil untuk digunakan menutup kepala. Ia tidak menyebut hijab,” ujar Maya.

Dari semua kejadian yang membawanya pada cahaya Islam, ia merasa begitu dimudahkan. Maya mengaku tengah dan terus belajar mendalami Islam. Maya ingin menjadi Muslimah seperti yang Allah SWT inginkan. Maya ingin menjadi representasi yang baik atas Islam bagi semua wanita lainnya.

Edited By : Aditya Von Herman
Source : youtube.com, republika.co.id



Artikel Terkait Mualaf


1 komentar:

  1. villa pacet | Sewa elf surabaya | Travel Surabaya Bojonegoro salam kenal semuanya

    http://kampungtoga-sumedang.blogspot.com/2014/10/daftar-tarif-villa-kampung-toga.html

    BalasHapus

Berkomentar yang baik atau lebih baik diam. Dilarang keras untuk iklan yang berbau judi, pornografi dan syirik! Jika terpaksa Anda inginkan iklan juga, di sebelah samping kanan ada text box silahkan iklankan kehendak Anda disana. Terima kasih atas pengertian Anda. Semoga Allah merahmati Anda...

-Aditya Von Herman

Über Mich

Foto saya

Herman is a student from University of BSI Margonda Depok, Indonesia major of Computer Engineering. He is the author of www.asterprescott.blogspot.com, www.explorejakartahere.blogspot.com as an article publisher, administrator and moderator on his own personal web blog since February 2013.