LISTEN TO THIS
DENGAR INI

After poorness there will be richness, after being thirsty there will be freshness, after parting there will be a meeting, after rift there will be adhesiveness, after disconnect will being reconnected and after you cannot sleep at night you could be sleep well after it.

Setelah kefakiran itu ada kekayaan, setelah kehausan akan ada kesegaran, setelah perpisahan akan ada pertemuan, setelah keretakan akan ada kerekatan, setelah terputus akan tersambung kembali dan setelah tidak tidur malam Anda akan dapat tidur pulas.

I knew something in this life, is not necessary need to be strong but to feel strong...

Saya tahu sesuatu dalam hidup, adalah tidak penting untuk menjadi kuat tetapi bersikap kuat...

Wir Eingeschlagen Haben Und Zu Weit Zurück Zu Gehen, Gehen Sie Auf!

Kita Sudah Memulai Dan Terlalu Jauh Untuk Kembali, Lanjutkan!




Rabu, 03 September 2014

Saya Ingin Mati Dalam Keadaan Muslim

Mualaf Ilustrasi


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Mustafa dibesarkan di wilayah Selatan, Amerika Serikat. Ia seorang penganut Kristen. Ia cukup aktif dalam kegiatan layanan gereja. Di kampus, ia menjadi anggota jemaat Gereja Kristus.

"Saya secara tulus mengakui, Yesus adalah anak Allah," kenang dia seperti dilansir Onislam.net, Senin (25/8). Ia juga percaya, dosa-dosanya telah dihapuskan oleh Yesus.

Suatu hari,  Mustafa bertemu dengan mahasiswa Iran. Mahasiswa itu bertanya kepada Mustafa apakah ia bisa menjadi teman sekamarnya. Mustafa pu mengiyakan. Sejak itu, keduanya terlibat pembicaraan soal agama.

"Setelah saya membawa Alquran selama liburan Natal, saya antusias mencari ayat tentang Yesus, Maria, Musa dan Yusuf.  Ketika saya baca, saya merasa tidak setuju dengan apa yang dikatakan Alquran, utamanya soal pernyataan Alquran soal Ketuhanan Yesus," ucap dia.

Membaca lebih dalam, Mustafa mulai berpikir logis. Perlahan, pemahaman Mustafa tentang ajaran Kristen berubah. Usai liburan semester, Mustafa memberitahu teman sekamarnya itu soal keyakinannya terhadap Islam. "Kami pergi ke masjid. Saya mengakui Tuhan itu satu, dan Kerasulan Muhammad SAW," ucapnya.

Tak butuh waktu lama bagi Mustafa beradaptasi dengan ajaran Islam. Ini terjadi, karena Mustafa cukup aktif mempelajari Islam. Memang, tak dipungkiri, lingkunganlah yang menjadi hambatan bagi Mustafa.

"Saya belum mempraktikan ajaran Islam dengan baik. Tapi saya terus belajar, saya ingin keluarga saya mengenal Islam dan Allah," kata dia.

Selama itu,  Mustafa mengalami pasang surut iman. Pada usia 40 tahun, Mustafa mulai memutuskan untuk mendalami ajaran Islam. "Saya tidak peduli apa kata mereka soal Islam dan Muslim. Ini tanggung jawab pribadi saya sebagai Muslim," kata dia.

Tragedi 9/11, membuat Islam dan Muslim terpojok. Pun itu dirasakan Mustafa. Masa itu merupakan cobaan terberat yang dialami Mustafa sejak memutuskan menjadi Muslim. Mustafa semakin sering membaca literatur Islam. "Dari apa yang saya baca, apa yang saya alami merupakan cara untuk memperkuat iman kepada Allah," kata dia.

"Saya sang at bersyukur. Saya berharap bisa menjalani sisa hidup saya untuk mengabdi kepada Allah. Saya ingin mati dalam keadaan Muslim," kata dia.

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id



Artikel Terkait Mualaf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentar yang baik atau lebih baik diam. Dilarang keras untuk iklan yang berbau judi, pornografi dan syirik! Jika terpaksa Anda inginkan iklan juga, di sebelah samping kanan ada text box silahkan iklankan kehendak Anda disana. Terima kasih atas pengertian Anda. Semoga Allah merahmati Anda...

-Aditya Von Herman

Über Mich

Foto saya

Herman is a student from University of BSI Margonda Depok, Indonesia major of Computer Engineering. He is the author of www.asterprescott.blogspot.com, www.explorejakartahere.blogspot.com as an article publisher, administrator and moderator on his own personal web blog since February 2013.