LISTEN TO THIS
DENGAR INI

After poorness there will be richness, after being thirsty there will be freshness, after parting there will be a meeting, after rift there will be adhesiveness, after disconnect will being reconnected and after you cannot sleep at night you could be sleep well after it.

Setelah kefakiran itu ada kekayaan, setelah kehausan akan ada kesegaran, setelah perpisahan akan ada pertemuan, setelah keretakan akan ada kerekatan, setelah terputus akan tersambung kembali dan setelah tidak tidur malam Anda akan dapat tidur pulas.

I knew something in this life, is not necessary need to be strong but to feel strong...

Saya tahu sesuatu dalam hidup, adalah tidak penting untuk menjadi kuat tetapi bersikap kuat...

Wir Eingeschlagen Haben Und Zu Weit Zurück Zu Gehen, Gehen Sie Auf!

Kita Sudah Memulai Dan Terlalu Jauh Untuk Kembali, Lanjutkan!




Sabtu, 11 Oktober 2014

Al-Andalus

Salah satu arsitektur kekhalifahan bani Umayyah di Spanyol Mezquita atau disebut juga "La Mezquita" untuk masjid dalam bahasa Spanyol, yang sekarang sudah dialih fungsikan menjadi cathedral setelah kejatuhan kekhalifahan islamiyah di tanah Spain

ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Andalusia selalu saja menarik untuk dikaji kembali. Kehadiran Islam di Andalusia telah mengakhiri kekuasaan politik monoreligi (satu agama) yang dipaksakan penguasa sebelumnya. Islam hadir untuk menawarkan konsep politik multi agama. Pemerintahan Islam di negeri ini menciptakan masyarakat Spanyol yang pluralistik. Para pemeluk agama yang berbeda-beda dapat hidup berdampingan secara damai, aman dan saling bekerjasama membangun negara dan peradaban Spanyol yang besar. Melalui proses akulturasi kebudayaan ini Islam kemudian maju pesat. Andalusia Islam menjadi pusat peradaban dunia yang cemerlang. Di sini ada Al-Hamra, istana indah bercat merah yang terletak di sebuah bukit kecil di kota Granada.  Ada Kordoba yang pernah menjadi pusat pengembangan dan pergulatan intelektual dunia. Ada kota kuno, Seville, yang ekosotik. Disana ada istana Alcazar yang megah, anggun memukau. Di dinding istana ini ada kaligrafi indah bertuliskan  La ghalib ill Allah atau “Tiada pemenang kecuali Allah”.



Dulu, abad pertengahan, di desa-desa di Andalusi hampir semua disiplin ilmu pengetahuan manusia: kedokteran, matematika, filsafat, sastra, musik, arsitektur dan lain-lain, di samping ilmu-ilmu keagamaan, dikaji dengan intensif dan produktif. Dari kota ini lahir sejumlah pemikir Islam berkaliber dunia dan menjadi legendaris. Beberapa di antaranya adalah  Ibnu Hazm, Ibnu Thufail, Ibnu Rusyd, Ibnu Arabi, Ibnu Bajah, Ibnu Malik, dan Al-Syathibi. Ini hanya untuk menyebut beberapa nama saja dari sekian banyak cendikiawan lain, dan hanya untuk disiplin humaniora belaka dari sekian banyak disiplin ilmu pengetahuan, fisika, filsafat dan metafisika. Pikiran-pikiran mereka masih terus dibaca dan dijadikan rujukan sampai hari ini. Kepiawaian ilmiyah mereka diperoleh melalui pergumulan dan dialektika intelektual yang ketat, kritikal, dinamis dan bergetar dengan beragam tradisi dan kebudayaan, terutama kebudayaan Helenistik-Yunani berikut para tokoh-tokoh besarnya, semacam Pytagoras, Socrates, Plato, Aristo, Galenus, dan lain-lain. Nama-nama cendikiawan, filosof, dan sufi muslim di atas dan karya-karya intelektual mereka terus dibicarakan dan dibaca bangsa-bangsa di dunia, terutama Eropa, selama berabad-abad. Melalui para ilmuan, filosof dan bijak bestari muslim di atas, dunia Barat mengenal ilmu pengetahuan, filsafat dan sebagainya. 

Sayyed Hossein Nasr, cendekiawan muslim kontemporer dari Iran yang terkenal mengatakan: “Islam menjadi ahli waris khazanah kecendikiaan semua peradaban besar dunia sebelumnya, kecuali peradaban besar Timur Jauh, serta menjadi sebuah tempat berlindung di sebuah jagat ruhani baru”. Kita tak bisa mengatakan kecuali bahwa Islam memang hadir untuk semua manusia dan menjunjung tinggi semua peradaban dan semua kebudayaan manusia. Islam adalah agama terbuka, inklusif dan (seharusnya) menjadi anugerah keindahan bagi semesta (Rahmatan lil ‘Alamin).

Mohammad Iqbal, filsuf dan sastrawan besar dari Pakistan, menyampaikan pesan kepada manusia muslim:

Wahai, kau yang lahir di bumi seindah mawar
Yang lahir dari rahim pribadi
Jangan ingkar akan pribadimu
Berpeganglah padanya
Jadilah setitik air dan reguk samudra ini
Sang pribadi yang berkilauan itulah sifatmu
Perteguh pribadimu dan kau kekal selamanya
Kau punya wujud, tapi takutkah kau jika tak berwujud?

Di tempat lain, dia bilang :

Bukalah matamu, pandang dunia, bintang dan angkasa
Lihatlah sang mentari terbit di Timur dengan gembira
Lihatlah semesta raya tak berkudung itu bertaburkan cahaya
Kenangkan rindu dendam hari perpisahan
Tapi, jangan engkau lelah melangkah
Pandang perjuangan dalam harap dan cemas
Seisi alam semesta ini adalah milikmu
Kuasailah mereka

Edited By : Aditya Von Herman
Source : Ketika Islam di Andalusia Ditulis oleh: Husein Muhammad



Artikel Terkait Education


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentar yang baik atau lebih baik diam. Dilarang keras untuk iklan yang berbau judi, pornografi dan syirik! Jika terpaksa Anda inginkan iklan juga, di sebelah samping kanan ada text box silahkan iklankan kehendak Anda disana. Terima kasih atas pengertian Anda. Semoga Allah merahmati Anda...

-Aditya Von Herman

Über Mich

Foto saya

Herman is a student from University of BSI Margonda Depok, Indonesia major of Computer Engineering. He is the author of www.asterprescott.blogspot.com, www.explorejakartahere.blogspot.com as an article publisher, administrator and moderator on his own personal web blog since February 2013.