LISTEN TO THIS
DENGAR INI

After poorness there will be richness, after being thirsty there will be freshness, after parting there will be a meeting, after rift there will be adhesiveness, after disconnect will being reconnected and after you cannot sleep at night you could be sleep well after it.

Setelah kefakiran itu ada kekayaan, setelah kehausan akan ada kesegaran, setelah perpisahan akan ada pertemuan, setelah keretakan akan ada kerekatan, setelah terputus akan tersambung kembali dan setelah tidak tidur malam Anda akan dapat tidur pulas.

I knew something in this life, is not necessary need to be strong but to feel strong...

Saya tahu sesuatu dalam hidup, adalah tidak penting untuk menjadi kuat tetapi bersikap kuat...

Wir Eingeschlagen Haben Und Zu Weit Zurück Zu Gehen, Gehen Sie Auf!

Kita Sudah Memulai Dan Terlalu Jauh Untuk Kembali, Lanjutkan!




Minggu, 10 Mei 2015

Abdur Raheem Green: Islam Adalah Cahaya, Kedamaian, Dan Ketenangan Hati

Abdur Raheem Green


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Abdur Raheem Green terlahir di Dar es Salaam, Tanzania dengan nama Anthony Vatswaf Galvin Green. Ia lahir ketika ayahnya masih menjabat sebagai administrator kolonial Inggris. Onislam.net melansir, ibu Anthony seorang penganut Katolik Roma, sedangkan ayahnya agnostik. Sejak pernikahannya, sang ibu menyadari bahwa dirinya bukan seorang Katolik yang baik, tapi dia ingin memperbaikinya dengan mengirimkan kedua putranya ke sekolah Katolik. Maka, Anthony dan saudara laki-lakinya, Duncan, dididik untuk menjadi seorang pemeluk Katolik yang taat. Pada umur 10 tahun, Anthony masuk ke sebuah sekolah Katolik berasrama yang sangat terkenal. Sekolah biara itu bernama Ampleforth College, terletak di Yorkshire, utara Inggris. 

Suatu malam, ibunya mengajarkan sebuah doa yang biasa dilafadzkan umat Katolik. “Salam Bunda Maria. Maria, ibu dari Tuhan, terberkatilah engkau di antara para perempuan dan terberkatilah buah yang kau lahirkan, Yesus Kristus.” 

Itulah kali pertama Anthony merasa heran. Dia bertanya kepada dirinya sendiri, “Bagaimana mungkin Tuhan bisa mempunyai ibu?” 

Anthony terus memikirkan hal itu. Seandainya Maria adalah ibu dari Tuhan, bukankah lebih baik jika dia menjadi Tuhan itu sendiri?  

Seiring waktu, pertanyaan-pertanyaan itu semakin menumpuk di benaknya. Ia juga bertanya, mengapa saya harus pergi melakukan pengakuan dosa? 

“Bisakah kalian membayangkan anak umur 10, 11, sampai 20 tahun melakukan pengakuan dosa? Apakah kamu yakin mereka akan mengakui semua dosa-dosa mereka.” Ia merasa ada sebuah konspirasi besar di balik tradisi pengakuan dosa. 

Mengapa kita harus pergi kepada pendeta untuk mengakui dosa? Mengapa tidak langsung kepada Tuhan saja? Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah terjawab.

Ketika ia berumur 11 tahun, ayahnya pindah ke Mesir sebagai Manajer Umum Barclays Bank di Kairo. Namun, Anthony tetap tinggal diInggris. Ia hanya sesekali pulang ke Mesir untuk berlibur. 

Saat itulah, ia kembali dihantui oleh pertanyaan. Mengapa ia harus hidup di Inggris? Apakah tujuan hidup ini? Untuk alasan apa, kita ada? Apakah arti cinta? Dan tentang apakah semua ini? 

Untuk sementara, ia berpikir tetap di Inggris untuk bekerja keras, sekolah, mendapatkan nilai baik dalam ujian, mendapatkan gelar, pekerjaan, uang, lantas menikah. Setelah menikah, ia berencana bisa membiayai anak-anaknya, mengirimkan mereka ke sekolah mahal, dan seterusnya. Itulah tujuan hidupnya kala itu. Namun, ia tak bisa menyangkal jika lubuk hatinya meragukan jawaban itu. Sampai suatu hari, sesuatu yang sangat penting terjadi.

Anthony menyimpan banyak pertanyaan tentang Katolik. Tapi, ketika seseorang menantang atau mempertanyakan keimanannya, dengan penuh semangat ia akan membela. Ia merasakannya sebagai sebuah paradoks yang aneh. 

Ketika itu, ia tengah berlibur di Mesir dan bertemu dengan seseorang. Setelah percakapan selama 40 menit, orang itu memintanya menjawab beberapa pertanyaan sederhana. 

Apakah kamu percaya Yesus itu Tuhan? Ya. Kamu percaya Yesus mati di tiang salib? Ya. Jadi, kamu percaya Tuhan mati?

Smash! Seolah-olah Mike Tyson memukul wajahnya dengan  kepalan tinju. Ia sangat terperangah. 

Anthony segera menghentikan percakapan dan tidak ingin memikirkan hal itu lagi. Ia pergi, merokok, minum kopi, menulis, dan melakukan apa saja kecuali berpikir tentang orang itu. 

“Lupakan semua itu, lupakan agama, lupakan spiritualitas. Mungkin masalah sebenarnya adalah saya tidak punya cukup uang.”

 Ia berpikir, barangkali bisa memulainya dari Inggris, Amerika, atau Jepang.

Sampai suatu hari, ia menemukan dirinya berada di sebuah toko buku-buku Islam di samping masjid. “Apakah Anda seorang Muslim?” seorang lelaki penjaga toko bertanya pada Anthony. 

Anthony tidak paham. Apakah yang dimaksud dengan Muslim? 

“Dengar, saya percaya bahwa hanya ada satu Tuhan dan Muhammad adalah utusan-Nya,” lanjut si lelaki.

Lelaki penjaga toko itu juga berseru gembira sembari mengatakan, shalat Jumat telah tiba. Anthony tidak tahu apa itu shalat Jumat, tapi dia mengikuti orang itu ke masjid. Semua orang di masjid mengajarinya. 

Saat ini, Anthony dengan Abdur Raheem Green seperti merasa baru saja memulai sebuah hidup baru.  Ia mulai sholat, berdoa, dan mempraktikkan ibadah umat Muslim. Menurutnya, Islam adalah cahaya, kedamaian, dan ketenangan hati. Ibarat berada dalam sebuah gedung yang gelap gulita, kemudian kita bisa membuka pintu, melangkah keluar, dan berada dalam  terang. Tiba-tiba, kita bisa melihat semuanya dengan jelas.

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id



Artikel Terkait Mualaf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentar yang baik atau lebih baik diam. Dilarang keras untuk iklan yang berbau judi, pornografi dan syirik! Jika terpaksa Anda inginkan iklan juga, di sebelah samping kanan ada text box silahkan iklankan kehendak Anda disana. Terima kasih atas pengertian Anda. Semoga Allah merahmati Anda...

-Aditya Von Herman

Über Mich

Foto saya

Herman is a student from University of BSI Margonda Depok, Indonesia major of Computer Engineering. He is the author of www.asterprescott.blogspot.com, www.explorejakartahere.blogspot.com as an article publisher, administrator and moderator on his own personal web blog since February 2013.