LISTEN TO THIS
DENGAR INI

After poorness there will be richness, after being thirsty there will be freshness, after parting there will be a meeting, after rift there will be adhesiveness, after disconnect will being reconnected and after you cannot sleep at night you could be sleep well after it.

Setelah kefakiran itu ada kekayaan, setelah kehausan akan ada kesegaran, setelah perpisahan akan ada pertemuan, setelah keretakan akan ada kerekatan, setelah terputus akan tersambung kembali dan setelah tidak tidur malam Anda akan dapat tidur pulas.

I knew something in this life, is not necessary need to be strong but to feel strong...

Saya tahu sesuatu dalam hidup, adalah tidak penting untuk menjadi kuat tetapi bersikap kuat...

Wir Eingeschlagen Haben Und Zu Weit Zurück Zu Gehen, Gehen Sie Auf!

Kita Sudah Memulai Dan Terlalu Jauh Untuk Kembali, Lanjutkan!




Minggu, 17 Mei 2015

Aisha Bhutta: Bahwa Di Setiap Kesulitan Selalu Ada Kemudahan

Aisha Bhutta


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Di saat Debbi Rogers remaja, ia merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Ketika teman-temannya kerap menciumi poster penyanyi tampan George Michael, ia justru memandangi gambar Yesus di dindingnya tiap malam. 

Ya, Rogers (32 tahun) terlahir di tengah keluarga kristiani yang taat. Sehingga, ia pun tidak membayangkan mengucapkan kalimat syahadat, menikah dengan seorang pria Muslim, dan membawakan hidayah bagi puluhan orang keluarga, kerabat, dan tetangganya untuk bersyahadat pula.

Rogers yang kini bernama Aisha Bhutta sebenarnya pernah dipertemukan dengan sang suami, Mohammad Bhutta (41 tahun) ketika berusia 10 tahun. Saat itu, Bhutta membeli barang di toko yang dikelola keluarga Aisha.

“Saat itu, ia mengatakan bahwa ia seorang Muslim. Dan saya balik bertanya, ‘Apa itu Muslim?’ Karena saat itu saya merasakan kedamaian saat berbicara dengannya,” urai Aisha mengenang pertemuannya dengan Bhutta, dilansir dari muslimconvert.com.

Waktu berlalu, Rogers atau Aisha tetap berkomunikasi dengan Bhutta melalui diskusi-diskusi tentang keimanan. Akhirnya, ia pun mengucapkan kalimat syahadat pada usia 16 tahun. Berkat bimbingan Bhutta pula, Aisha mampu membaca Alquran di usia 17 tahun.

“Ketika saya mengucapkan satu kalimat dalam bahasa Arab, saya dulu merasakan seperti beban yang berat. Saya seperti bayi yang baru lahir,” ungkap Aisha.

Tibalah saat Bhutta ingin melamar Aisha, tantangan baru datang. Ayah Bhutta tak setuju rencana pernikahan mereka meskipun telah seiman. Lantaran mereka menganggap perempuan keturunan Barat akan membawa masalah dalam kultur kehidupan Pakistan mereka. Bahkan ayah Bhutta selalu menyebut Aisha sebagai ‘musuh terbesar’. Meski belum mengantongi restu, keduanya menikah di masjid setempat. Aisha memakai gaun tradisional shalwaar kameez jahitan ibu dan saudara perempuan Bhutta. Namun, sang ayah mertua tetap tak mau hadir saat akad nikah.

Berkat kesabaran Aisha, ayah mertuanya luluh karena melihat keseharian Aisha yang dipenuhi kegiatan relijius. Ia tekun membaca Alquran dan mau mempelajari adat istiadat Pakistan. Sementara orang tua Aisha, Michael dan Marjory Rogers yang datang saat akad nikah putrinya pun kini telah menjadi Muslim setelah enam tahun pernikahan Aisha.

"Aku  dan suami selalu menceritakan tentang Islam pada orangtuaku dan mereka melihat sendiri ada perubahan sikap dalam diriku,” terang Aisha.

Marjory Rogers pun mengucapkan kalimat syahadat terlebih dulu daripada suaminya. Ia mengubah namanya menjadi Sumayyah dan mengenakan hijab. Tiga tahun kemudian, kakak laki-laki Aisha juga menjadi seorang Muslim. Diikuti dengan istri dan anak-anaknya. Serta keponakan dari saudara perempuan Aisha.

Upaya Aisha tak hanya berhenti di lingkungan keluarga saja. ia pun mulai berdakwah di lingkungan flat tempat tinggalnya di Cowcaddens. Setiap hari Senin, ia membuka kelas diskusi khusus perempuan Skotlandia. Alhamdulillah, ia pun berhasil membuat lebih dari 30 orang menjadi mualaf.
Seorang dosen di University of Glasgow dan seorang pemuka agama Katolik bahkan meriset aktivitas Aisha. Keduanya pun ternyata mengakui bahwa ajaran kristiani merupakan ajaran yang dipenuhi inkonsistensi.

Suami Aisha, Bhutta pun masih konsisten menuntun orang-orang yang ingin belajar tentang Islam di tengah kegiatannya mengelola restoran keluarga. Namun, fokusnya hanya mendidik kelima anaknya menjadi Muslim yang kaffah.

Putri sulung mereka, Safia (14 tahun) kerap melihat sang ibu sering dihampiri para perempuan di tengah jalan. Mereka antusias untuk hadir ke kelas diskusi dan hampir selalu menjadi seorang mualaf.

"Setiap pernikahan itu selalu mengalami masa naik dan turun, maka kami selalu butuh sebuah pendorong untuk menaikkannya kembali dengan kalimat dari RasulullahS,” kata Aisha.

Mendengar itu, sang suami pun mengamini bahwa peran istri dalam bukan hanya sebagai pendamping hidup. “Istri adalah pendamping di surga kelak. Hal yang indah, bukan?”

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id



Artikel Terkait Mualaf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentar yang baik atau lebih baik diam. Dilarang keras untuk iklan yang berbau judi, pornografi dan syirik! Jika terpaksa Anda inginkan iklan juga, di sebelah samping kanan ada text box silahkan iklankan kehendak Anda disana. Terima kasih atas pengertian Anda. Semoga Allah merahmati Anda...

-Aditya Von Herman

Über Mich

Foto saya

Herman is a student from University of BSI Margonda Depok, Indonesia major of Computer Engineering. He is the author of www.asterprescott.blogspot.com, www.explorejakartahere.blogspot.com as an article publisher, administrator and moderator on his own personal web blog since February 2013.