LISTEN TO THIS
DENGAR INI

After poorness there will be richness, after being thirsty there will be freshness, after parting there will be a meeting, after rift there will be adhesiveness, after disconnect will being reconnected and after you cannot sleep at night you could be sleep well after it.

Setelah kefakiran itu ada kekayaan, setelah kehausan akan ada kesegaran, setelah perpisahan akan ada pertemuan, setelah keretakan akan ada kerekatan, setelah terputus akan tersambung kembali dan setelah tidak tidur malam Anda akan dapat tidur pulas.

I knew something in this life, is not necessary need to be strong but to feel strong...

Saya tahu sesuatu dalam hidup, adalah tidak penting untuk menjadi kuat tetapi bersikap kuat...

Wir Eingeschlagen Haben Und Zu Weit Zurück Zu Gehen, Gehen Sie Auf!

Kita Sudah Memulai Dan Terlalu Jauh Untuk Kembali, Lanjutkan!




Kamis, 07 Mei 2015

Lacey Tourney: Islam Benar-Benar Berbeda Dibandingkan Dengan Agama-Agama Lain

Lacey Tourney


Lacey Tourney (25 tahun) dibesarkan dalam keluarga Katolik Roma. Hingga remaja, ia rutin pergi ke gereja. Perempuan asal Kanada itu juga merayakan semua hari-hari besar Nasrani setiap tahunnya, seperti Natal dan Paskah. Akan tetapi, saat beranjak dewasa, Tourney mulai mempertanyakan kembali keimanan yang ia anut sejak kecil.

“Ketika usiaku semakin bertambah, aku kehilangan gairah terhadap agama (Kristen). Aku tidak lagi punya keinginan untuk pergi ke gereja. Meskipun demikian, aku tetap meyakini keberadaan Tuhan,” ujar Tourney seperti dikutip dari Leader Post.

Perubahan besar dalam kehidupan Tourney bermula tatkala ia duduk di bangku universitas. Pada tahun pertama menjadi mahasiswa, ia mulai menjalin hubungan pertemanan dengan sejumlah penganut Islam. Ketika itu, belum banyak yang ia ketahui tentang Islam. Namun, rasa penasaran mendorong dirinya untuk menggali agama ini lebih dalam lagi. Berangkat dari rasa ingin tahu tersebut, Tourney lantas mengambil kuliah khusus tentang studi-studi agama Timur Tengah di kampusnya, Universitas Regina, Kanada. 

Sejak itu, keinginannya untuk meneliti ajaran-ajaran Islam semakin bertambah. Dia bahkan rela menghabiskan waktu berjam-jam berdiskusi dengan teman-teman Muslimnya hanya untuk mempelajari tata cara hidup dalam Islam. Setelah beberapa kali melakukan diskusi, Tourney akhirnya berkesimpulan bahwa apa yang dikatakan teman-teman Muslimnya itu semuanya masuk akal. 

“Islam benar-benar berbeda dibandingkan dengan agama-agama lain. Aku bahkan tidak pernah tahu sebelumnya, ada agama yang masuk akal seperti Islam,” ujarnya.

Sembari terus melanjutkan penelitian tentang Islam, Tourney merasa hidayah Allah semakin menjalari pikiran dan hatinya. Keinginan untuk menjadi seorang muslimah pun mulai terlintas di benak perempuan itu. Proses perenungan yang mendalam mengantarkan Tourney kepada puncak pencarian spiritualnya. Pada 2010, Tourney akhirnya membuat keputusan paling penting dalam hidupnya. 

“Ketika itu, aku tengah sendirian di kamar. Setelah memantapkan hati, malamnya aku mengucapkan dua kalimat syahadat. Ada kebahagiaan luar biasa yang aku rasakan selepas itu,” kenangnya.

Sejak menjadi mualaf,  Tourney mengaku merasakan perubahan besar dalam hidupnya. Mulai dari melaksanakan shalat lima waktu, hingga menjalani ibadah Ramadhan. Perubahan itu juga dia rasakan ketika terlibat dalam berbagai kegiatan sosial yang diadakan oleh komunitas Muslim di kotanya.

Pada Desember 2012, Tourney memutuskan untuk mengenakan jilbab agar benar-benar menjadi muslimah yang taat dalam arti seutuhnya. 

“Aku ingin segalanya dilakukan secara bertahap. Karena perubahan gaya hidup jelas akan memengaruhi seseorang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari,” tuturnya.

Salah satu teman dekat Tourney, Debra Schubert—yang menjadi mualaf sejak 2002 lalu—menuturkan, keputusan Tourney mengenakan jilbab  sekaligus menandakan bahwa sahabatnya itu betul-betul ingin menyempurnakan iman yang dia miliki. Menurut Schubert, ada beragam alasan yang mendorong seseorang menjadi mualaf. Bagi Tourney sendiri, kata dia, menjadi seorang Muslimah bukan semata-mata soal kepuasan rohani, melainkan juga menyangkut urusan kesehatan jasmani. 

“Mengamalkan ajaran Islam dengan benar, dapat membuat hidup seseorang menjadi lebih sehat. Di samping itu, agama ini juga memiliki nilai-nilai yang sangat luhur terhadap kemanusiaan,” kata Schubert.

Nilai-nilai luhur tersebut, kata Schubert lagi, antara lain dapat ditemukan pada lima rukun Islam. Mulai dari mengucapkan dua kalimat syahadat, melaksanakan shalat fardhu lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menunaikan haji ke Makkah, dan membayar zakat. Seperti puasa Ramadhan, misalnya, yang menurut Schubert berfungsi sebagai sarana untuk memurnikan pikiran dan jiwa seseorang. Dengan berpuasa, kaum Muslimin dilatih untuk memahami arti dari rasa syukur.

“Di belahan dunia lain, banyak orang yang kurang beruntung karena tidak dapat menikmati hidangan yang mewah selama Ramadhan. Karena itu, sebagai Muslim, kita juga dituntut untuk meningkatkan rasa kepedulian terhadap sesama,” katanya.

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id



Artikel Terkait Mualaf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentar yang baik atau lebih baik diam. Dilarang keras untuk iklan yang berbau judi, pornografi dan syirik! Jika terpaksa Anda inginkan iklan juga, di sebelah samping kanan ada text box silahkan iklankan kehendak Anda disana. Terima kasih atas pengertian Anda. Semoga Allah merahmati Anda...

-Aditya Von Herman

Über Mich

Foto saya

Herman is a student from University of BSI Margonda Depok, Indonesia major of Computer Engineering. He is the author of www.asterprescott.blogspot.com, www.explorejakartahere.blogspot.com as an article publisher, administrator and moderator on his own personal web blog since February 2013.