LISTEN TO THIS
DENGAR INI

After poorness there will be richness, after being thirsty there will be freshness, after parting there will be a meeting, after rift there will be adhesiveness, after disconnect will being reconnected and after you cannot sleep at night you could be sleep well after it.

Setelah kefakiran itu ada kekayaan, setelah kehausan akan ada kesegaran, setelah perpisahan akan ada pertemuan, setelah keretakan akan ada kerekatan, setelah terputus akan tersambung kembali dan setelah tidak tidur malam Anda akan dapat tidur pulas.

I knew something in this life, is not necessary need to be strong but to feel strong...

Saya tahu sesuatu dalam hidup, adalah tidak penting untuk menjadi kuat tetapi bersikap kuat...

Wir Eingeschlagen Haben Und Zu Weit Zurück Zu Gehen, Gehen Sie Auf!

Kita Sudah Memulai Dan Terlalu Jauh Untuk Kembali, Lanjutkan!




Minggu, 10 Mei 2015

Marjolein Khan Kamp: Islam Adalah Agama Yang Membuat Puas Untuk Menyampaikan Semua Pertanyaan

Marjolein Khan Kamp


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Muslimah cantik bertutup semua auratnya. Tersujud pada selembar sajadah sembari melantunkan takbir, 'Allahu Akbar'. Marjolein Khan Kamp (30 tahun), mengaku kini hidupnya tenang dan penuh damai. Delapan tahun lalu, gadis asal Jerman itu mantap memilih Islam.

Islam, kata dia seperti dalam wawancara bersama Stern.de, Jumat (10/4), adalah agama yang membuatnya puas untuk menyampaikan semua pertanyaannya. Perasaan ingin tahu mana agama yang benar, tak menyurutkan langkahnya meniti jalan hidayah, meski orang tua, agama Kristen Protestan, keras melarangnya.


"Saya sedari dulu bertanya, mengapa orang melakukan dosa, dan mengapa Yesus Anak Allah," ujar wanita muda tersebut. Pertanyaan itu yang membuatnya banyak mempelajari agama di dunia, mulai dari Hindu hingga Buddha. Namun akhirnya, pada Islam lah Khan Kamp menemukan jawaban.

Pada awalnya, kata dia, Islam ia anggap merupakan agama untuk orang asing dan perempuan yang tertindas. Kendati demikian, berkat bimbingan sahabat dan beberapa Imam-imam Masjid di sekitaran Freiburg, ia menemukan Islam yang sesungguhnya.

"Saya masih akan terus ingat saat mengucapkan syahadat di depan dua orang saksi, dan saya sangat mudah untuk menjadi muslim," katanya. 

Syahadat, kata dia, Diyakini adalah bentuk komitmen, kesadaran, dan kepasrahan kepada Allah SWT dan meyakini bahwa Muhammad SAW adalah nabi terakhir.

Salah satu petugas sosial di Islamic Centre Freiburg, Reza Bega menyebut animo masyarakat begitu besar untuk mempelajari dan kemudian masuk Islam. "20 sampai 30 orang per tahun yang memilih Islam," kata dia. Secara resmi, kata dia, hingga saat ini tercatat ada 30.000 mualaf di kota Freiburg. 

"Tapi jumlah sebenarnya bisa jadi jauh lebih tinggi," kata dia.

Edited By : Aditya Von Herman
Source : p5.focus.de, republika.co.id



Artikel Terkait Mualaf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentar yang baik atau lebih baik diam. Dilarang keras untuk iklan yang berbau judi, pornografi dan syirik! Jika terpaksa Anda inginkan iklan juga, di sebelah samping kanan ada text box silahkan iklankan kehendak Anda disana. Terima kasih atas pengertian Anda. Semoga Allah merahmati Anda...

-Aditya Von Herman

Über Mich

Foto saya

Herman is a student from University of BSI Margonda Depok, Indonesia major of Computer Engineering. He is the author of www.asterprescott.blogspot.com, www.explorejakartahere.blogspot.com as an article publisher, administrator and moderator on his own personal web blog since February 2013.