LISTEN TO THIS
DENGAR INI

After poorness there will be richness, after being thirsty there will be freshness, after parting there will be a meeting, after rift there will be adhesiveness, after disconnect will being reconnected and after you cannot sleep at night you could be sleep well after it.

Setelah kefakiran itu ada kekayaan, setelah kehausan akan ada kesegaran, setelah perpisahan akan ada pertemuan, setelah keretakan akan ada kerekatan, setelah terputus akan tersambung kembali dan setelah tidak tidur malam Anda akan dapat tidur pulas.

I knew something in this life, is not necessary need to be strong but to feel strong...

Saya tahu sesuatu dalam hidup, adalah tidak penting untuk menjadi kuat tetapi bersikap kuat...

Wir Eingeschlagen Haben Und Zu Weit Zurück Zu Gehen, Gehen Sie Auf!

Kita Sudah Memulai Dan Terlalu Jauh Untuk Kembali, Lanjutkan!




Rabu, 03 Juni 2015

Ioni Sullivan: Maka Saya Tak Perlu Seorang Pendeta Untuk Mendoakan Kita Agar Masuk Surga

Ioni Sullivan


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Ioni Sullivan (38 tahun) sangat dikenal oleh warga Lewes, East Sussex, Inggris karena satu-satunya perempuan berjilbab di pedesaan tersebut. Padahal perempuan berputra dua orang ini terlahir dari keluarga atheis yang berpendidikan tinggi. Ayahnya, seorang profesor dan ibunya menjadi guru.

Setelah menyandang master filsafat dari Cambridge pada tahun 2000, Sullivan lantas bekerja di beberapa negara, seperti Mesir, Yordania, Palestina, dan Israel.

“Sekembalinya dari sana, aku merasa terkesan dengan ketegaran orang-orang disana, terutama umat Islam. Meski didera berbagai kesulitan, mereka tetap berusaha bertahan dengan keyakinnya. Ini kontras sekali dengan duniaku,” cetus Sullivan pada The Guardian.

Tahun 2001, ia menikah dengan seorang pria muslim Yordania yang tidak terlalu taat beribadah. Mereka menikah secara Islam. Namun, Sullivan mengakui, di awal pernikahannya, mereka hidup dengan gaya Barat. Hampir setiap hari mereka mengunjungi bar dan klub malam.

Kemudian, Sullivan harus menemui kenyataan bahwa ada kewajiban puasa Ramadhan dan zakat. Disitulah ia merasa harus mengendalikan pikiran tentang kebebasan ala Barat-nya. Puasa dan zakat, ujarnya, harus dilihat sebagai sebuah proses untuk mengendalikan diri. Setelah melalui proses kesadaran untuk mengendalikan dirinya, Sullivan pun dengan ikhlas belajar bahasa Arab agar bisa memahami Alquran.

“Saya membaca buku yang menyatakan bahwa bukti keberadaan Allah ada dalam setiap makhluk ciptaan-nya. Sehingga karena kita makhluk-Nya, maka saya tak perlu seorang pendeta untuk mendoakan kita agar masuk surga,” ujarnnya.

Perubahan terakhir pada diri Sullivan adalah keputusan untuk memakai jilbab setelah mempelajari Alquran secara utuh. Sullivan pun mengaku, tantangannya terletak pada lingkungan tempat tinggalnya.

“Mereka selalu mengira saya memakai penutup kepala karena terkena kanker. Meski terkejut dengan pemikiran itu, tapi saya tak mempersoalkannya karena hubungan di antara kami sangat baik.”

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.com



Artikel Terkait Mualaf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentar yang baik atau lebih baik diam. Dilarang keras untuk iklan yang berbau judi, pornografi dan syirik! Jika terpaksa Anda inginkan iklan juga, di sebelah samping kanan ada text box silahkan iklankan kehendak Anda disana. Terima kasih atas pengertian Anda. Semoga Allah merahmati Anda...

-Aditya Von Herman

Über Mich

Foto saya

Herman is a student from University of BSI Margonda Depok, Indonesia major of Computer Engineering. He is the author of www.asterprescott.blogspot.com, www.explorejakartahere.blogspot.com as an article publisher, administrator and moderator on his own personal web blog since February 2013.