LISTEN TO THIS
DENGAR INI

After poorness there will be richness, after being thirsty there will be freshness, after parting there will be a meeting, after rift there will be adhesiveness, after disconnect will being reconnected and after you cannot sleep at night you could be sleep well after it.

Setelah kefakiran itu ada kekayaan, setelah kehausan akan ada kesegaran, setelah perpisahan akan ada pertemuan, setelah keretakan akan ada kerekatan, setelah terputus akan tersambung kembali dan setelah tidak tidur malam Anda akan dapat tidur pulas.

I knew something in this life, is not necessary need to be strong but to feel strong...

Saya tahu sesuatu dalam hidup, adalah tidak penting untuk menjadi kuat tetapi bersikap kuat...

Wir Eingeschlagen Haben Und Zu Weit Zurück Zu Gehen, Gehen Sie Auf!

Kita Sudah Memulai Dan Terlalu Jauh Untuk Kembali, Lanjutkan!




Sabtu, 22 Agustus 2015

Carolyn Erazo: Saya Adalah Tipikal Gadis Amerika Tulen Dan Tentu Saja, Saya Memulai Perjalanan Dari Kristen Agama Tempat Saya Dibesarkan

Carolyn Erazo


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Sedari kecil, Carolyn Erazo sering berharap supaya tidak perlu pergi ke gereja meski dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristen.

“Saya adalah tipikal gadis Amerika tulen,” 

katanya memulai cerita pada Muslim Village, Kamis (20/8). Carolyn mengaku tidak senang dengan kegiatan yang dilaksanakan setiap hari Ahad itu. Ia tidak pernah percaya dengan apa yang diajarkan. Ada banyak inkonsistensi tampak di hadapannya, tapi tidak sedikitpun terbersit keinginan di hati Carolyn untuk mencari tahu. Ia hanya sekadar berpikir, bagaimana kita bisa mempercayai apa yang tidak kita ketahui? Apakah semua peristiwa benar-benar terjadi seperti yang dikisahkan Alkitab, atau jangan-jangan Alkitab itu hanya sebuah buku cerita yang terselip di antara deretan rak buku.

Beberapa tahun kemudian, Carolyn menghadiri sebuah retret gereja. Dari sanalah, awalnya Carolyn memiliki keinginan untuk melakukan perjalanan spiritual. Ia merefleksi kejadian-kejadian yang telah lampau. Di satu sisi, ia bersyukur, semenjak kecil telah menerima banyak kemewahan. Tidak semua orang bisa mendapatkan apa yang ia dapatkan.

Pada hari terakhir retret, Carolyn berjalan menyusuri bukit besar hingga ke pantai dan terduduk memandangi lautan. Perempuan itu sendirian. Ia begitu berharap Tuhan mengulurkan tangan dan menyentuhnya dengan penuh kasih. Sore itu, ia merasa telah datang kepada-Nya dengan segenap keyakinan bahwa Dialah satu-satunya penolong. Carolyn menyatakan, peristiwa itu begitu membekas dan mengubah jalan berpikirnya. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari iman, yang menurut dia, tidak akan pernah dia temukan. Saat itulah, mendadak air mata hangat mengalir di wajah Carolyn. Ia menyerah pada Tuhan. 

“Baik, kalau Dia melupakanku, aku juga akan melupakannya,” 

ujar Carolyn saat itu. Selama tahun-tahun berikutnya, ia hidup tanpa iman. Ia belum menemukan jawaban apapun atas kegelisahannya. Setiap pertanyaan yang muncul malahan membuat Carolyn semakin marah lantaran tidak pernah ada jawaban. 

Sampai kira-kira empat tahun lalu, hatinya terbuka kembali. Akhir Februari, ia tengah menghadiri sebuah upacara pemakaman. Carolyn takjub melihat sikap si ibu yang baru saja kehilangan anak di pemakaman itu. Perempuan yang tengah berduka cita itu sanggup berbicara pada Tuhan dengan lapang dada, tanpa jerit tangis kesedihan. Carolyn heran. Perempuan itu memahami kenyataan bahwa anaknya kini tenang bersama Tuhan. Sesuatu yang tidak dapat ia pahami. Ia menatap perempuan itu dengan iri. Si ibu itu pasti memiliki keimanan yang kuat pada Tuhan. Kesan itu tidak pernah pudar hingga beberapa hari kemudian.  

Carolyn butuh waktu seminggu sampai ia memutuskan untuk melakukan perjalanan spiritual. Ia tidak bisa hanya terus-menerus mencari pembenaran. Ia harus menemukan Tuhan dan menjawab pertanyaan yang berkelindan di benaknya.  

“Tentu saja, saya memulai perjalanan dari Kristen. Agama tempat saya dibesarkan,”

kata Carolyn. Ia pun duduk di gereja selama berminggu-minggu untuk mendengarkan ceramah. Tapi, nyatanya ia hanya mendapat sedikit percikan iman. Setelah beberapa bulan, Carolyn pun memperluas skala pencarian. Carolyn Erazo terbangun sangat awal untuk menemukan sebuah masjid yang telah ia cari sejak malam sebelumnya. Ia harus menuntaskan rasa ingin tahunya. Kali ini, perempuan Amerika itu ingin menjajaki Islam. 

Perempuan itu mulai mengemudikan mobilnya di sekitar lokasi, tapi tak bisa menemukan masjid itu, padahal ia sudah memegang alamatnya. Singkat cerita, Carolyn sampai di masjid yang dia tuju. Jauh di lubuk hati, ia merasa agak ketakutan. Kendati gemetar, Carolyn mendekati pintu dan membukanya. Seorang pria mendekati Carolyn lantaran ia berdiri di pintu masuk dan menanyakan imam masjid. Ia diberitahu bahwa imam tidak ada di tempat, tapi ia meyakinkan bahwa mereka akan menghubunginya setelah imam datang. Carolyn menuliskan nomor dan bergegas keluar. Jujur, ia tidak yakin akan ditelepon.

Sebelum pergi, orang yang berbicara padanya sempat memperkenalkan nama sang imam. Abdul Lateef, namanya. Sejak keluar dari masjid itu, Carolyn harap-harap cemas, antara ingin ditelepon dan takut ditelepon. Kurang dari dua jam kemudian, ia tidak bisa percaya bahwa Imam Abdul Lateef benar-benar menelepon.

Ketakutannya segera terhapus mendengar suara di ujung telepon. Imam Abdul Lateef mengundangnya untuk datang dan bertemu dengan dia malam itu. Carolyn kembali datang ke masjid. Ia segera mengulurkan tangan untuk menjabat tangan sang imam dan memperkenalkan diri. Tapi, dengan cepat imam itu menolak uluran tangannya, meminta maaf, sambil menjelaskan alasan. 

“Saya ingat dengan jelas. Saya kira itu benar-benar hal pertama yang membuat saya terkesan,”

kenang Carolyn. Kendati, ia merasa malu. Sampai-sampai, ia ingin marah pada bosnya lantaran tidak memberi tahu ada aturan itu sebelumnya. 

Imam Abdul Lateef mengajaknya duduk dan menanyakan semua persoalan yang ia alami. Carolyn mulai menjelaskan bahwa ia sedang dalam masa pencarian. Ia sudah menjelajahi kekristenan dan mengungkapkan argumen mengapa ia gagal menemukan kebenaran dalam ajaran Kristen. Imam Abdul Lateef tak banyak berkomentar. Ia membiarkan Carolyn mencurahkan segenap kerisauannya. Setelah usai, barulah Imam Abdul Lateef menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan runtut. Apa yang menjadi kegelisahan Carolyn selama ini mulai menemukan jawaban. 

Saat ia perhatikan, apa yang dikatakan Imam tampaknya benar. Tak kurang dari dua jam, Carolyn terus membombardir Imam dengan berbagai pertanyaan. Ia ingin benar-benar meyakinkan diri atas pilihannya. Ketika ia merasa cukup dan beranjak menuju pintu, Abdul Lateef berkata, 

“Terima kasih sudah mengizinkan saya menjadi bagian dari perjalanan Anda. Saya berharap, ketika Anda meninggalkan tempat ini, Anda tahu apakah Anda Muslim atau non-Muslim.”

Carolyn memikirkan kata-kata itu setiap  malam, selama lebih dari seminggu. Ucapan itu terngiang-ngiang dan membebani otaknya. Tiga hari berlalu, Imam Abdul Lateef kembali menelepon. Ia seolah tahu bahwa Carolyn sedang membutuhkan lebih banyak jawaban. Mereka berbicara panjang lebar hingga satu jam lewat telepon.

Selama beberapa bulan kemudian, Carolyn melahap berbagai literatur yang berkaitan dengan Islam. Ia harus tahu lebih banyak sebelum memutuskan. Agama ini masuk akal, kata Carolyn, tidak ada yang membuat perempuan itu meragukan kebenaran Islam. Muslim juga tidak mengerikan, sebagaimana anggapan masyarakat. Bahkan, dalam beberapa hal, mereka lebih baik daripada orang-orang Amerika. Kendati, ada Muslim yang pernah melakukan aksi-aksi teroris seperti yang diklaim Barat dan Amerika, Alquran tidak mengajarkan itu.

“Bagaimana saya menjelaskannya? Tidak ada yang mengerti. Mayoritas di lingkungan saya mengatakan, Islam tidak sesuai dengan identitas kami,” 

kata Carolyn, yang berkulit putih dan asli Amerika. 

Seandainya ia cocok dengan kekristenan, barangkali tidak masalah. Pasalnya, Carolyn merasa tidak cocok. Ia tidak bisa menolak takdir dan iman dia. Hati dan pikirannya terbuka untuk Islam, tapi ia masih belum memutuskan tekad. Ia membuat seribu satu alasan mengapa ia tak bisa. Termasuk ramadhan, Ia takut akan kewajiban puasa itu.  

Carolyn ingat dengan jelas apa yang dikatakan Imam Abdul Lateef ketika ia mengungkapkan kekhawatirannya.

“Saudariku, Ramadhan seharusnya tidak menakut-nakutimu. Saya jamin, Anda akan bersyahadat sebelum Ramadhan berakhir,” kata dia. 

Tebakan Imam Abdul Lateef benar! Dua minggu selepas Ramadhan, Carolyn Erazo bersyahadat. Ia begitu gugup saat memasuki masjid untuk bersyahadat. Perasaannya tidak terlukiskan. Malam itu juga, ia menelepon Abdul Lateef. Imam itu hanya tertawa kecil. Ia percaya Carolyn tinggal menunggu momentum. 

Kebahagiaan Carolyn menuai masalah saat orang-orang di lingkungan sekitarnya mengetahui keislaman perempuan itu. Ia mendapat banyak penentangan. Setiap ejekan seolah sengaja dilontarkan untuk membuat dia marah. Sepanjang waktu, Carolyn mencoba bertahan.  

Juni 2015, tepat tiga tahun Carolyn masuk Islam. Perempuan itu mengakui, seseorang tidak mungkin bisa hidup tanpa keyakinan dan iman. Ia mulai aktif di berbagai forum mualaf.

"Saya akan terus belajar memberikan respon-respon cerdas terhadap semua sentimen anti-Muslim yang dilemparkan pada saya," ucapnya yakin.

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id



Artikel Terkait Mualaf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentar yang baik atau lebih baik diam. Dilarang keras untuk iklan yang berbau judi, pornografi dan syirik! Jika terpaksa Anda inginkan iklan juga, di sebelah samping kanan ada text box silahkan iklankan kehendak Anda disana. Terima kasih atas pengertian Anda. Semoga Allah merahmati Anda...

-Aditya Von Herman

Über Mich

Foto saya

Herman is a student from University of BSI Margonda Depok, Indonesia major of Computer Engineering. He is the author of www.asterprescott.blogspot.com, www.explorejakartahere.blogspot.com as an article publisher, administrator and moderator on his own personal web blog since February 2013.